![]()
SAMARINDA, literasikaltim.com – Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Aisyiyah Samarinda memasuki babak baru setelah Dr. dr. Virdy Kurniawan, Sp.OG., MMR., AIFO-K resmi dipercaya sebagai Direktur RSIA Aisyiyah Samarinda.
Pelantikan tersebut, berlangsung di Aula Gedung E Lantai 4 Kampus Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Jalan Juanda, Samarinda, Minggu (16/8/2026).
Bagi Virdy, pelantikan tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan, setelah berakhirnya masa jabatan empat tahun sebelumnya.
Amanah tersebut, sekaligus menjadi momentum untuk menyiapkan perubahan besar dalam arah pengembangan RSIA Aisyiyah Samarinda.
Salah satu pekerjaan rumah utama yang disiapkannya adalah, transformasi RSIA Aisyiyah dari rumah sakit yang selama ini berfokus pada pelayanan ibu dan anak menjadi rumah sakit umum.
Virdy mengatakan, perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi RSIA Aisyiyah Samarinda, untuk memperluas cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Ke depan, rumah sakit tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak, tetapi juga akan mengembangkan sejumlah layanan medis lainnya.

“Yang menjadi PR ke depan adalah tidak ada lagi yang namanya Rumah Sakit Ibu dan Anak, dan di tahun depan semua rumah sakit itu menjadi rumah sakit umum,” ujar Virdy saat ditemui usai pelantikan Direktur RSIA Aisyiyah Samarinda, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, perubahan tersebut akan diikuti dengan penambahan sejumlah layanan spesialis.
Di antaranya pelayanan penyakit dalam dan bedah, yang diproyeksikan menjadi bagian dari pengembangan layanan RSIA Aisyiyah Samarinda.
Dengan demikian, perubahan status tersebut diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, sekaligus meningkatkan daya saing rumah sakit di tengah perkembangan sektor kesehatan di Samarinda.
“PR saya ke depan adalah mengubah image Aisyiyah, dari Rumah Sakit Ibu dan Anak menjadi rumah sakit umum. Jadi bukan hanya sekadar melayani ibu dan anak. Ada penyakit dalam, ada bedah yang akan menjadi layanan tambahan,” jelasnya.
Virdy mengakui, transformasi tersebut bukan pekerjaan mudah.
Selain membutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan penguatan sistem pelayanan, RSIA Aisyiyah Samarinda juga menghadapi keterbatasan dari sisi keuangan dan kondisi fisik rumah sakit.
Menurut dia, keterbatasan lahan menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi dalam mengembangkan fasilitas dan layanan rumah sakit.
Kondisi lokasi yang semakin padat, membuat pengembangan secara fisik tidak dapat dilakukan secara leluasa.
“Pastinya tidak mudah, karena ada keterbatasan keuangan di situ. Juga lokasi yang sudah tidak bisa dikembangkan lagi karena nanti sudah padat,” ungkapnya.
Kendati demikian, kondisi tersebut tidak ingin dijadikan alasan untuk menghentikan pengembangan rumah sakit.
Virdy menegaskan, pihaknya akan mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan secara maksimal.
“Dengan semua keterbatasan itu, Kita coba optimalkan bagaimana caranya pelayanan tetap bisa berjalan, dan masyarakat tetap bisa terlayani dengan baik,” katanya.
Ia menilai, penguatan pelayanan tidak selalu harus dilakukan dengan pembangunan fisik secara besar-besaran.
Optimalisasi fasilitas yang tersedia, penguatan sumber daya manusia, serta pengembangan layanan menjadi bagian penting yang akan dilakukan secara bertahap.
Di tengah rencana transformasi menjadi rumah sakit umum, Virdy menegaskan satu hal yang tidak boleh hilang, yakni identitas RSIA Aisyiyah sebagai rumah sakit yang mengusung konsep pelayanan Islami.
Menurutnya, RSIA Aisyiyah Samarinda memiliki sejarah panjang dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Rumah sakit tersebut, telah berdiri sejak 1967 dan menjadi salah satu rumah sakit Islam yang mampu bertahan hingga saat ini.
“Rumah sakit ini sudah berdiri dari tahun 1967. Rumah sakit Islam yang konsepnya Islami pertama yang masih bertahan sampai sekarang. Ini harus tetap dipertahankan,” tegasnya.
Ia menilai keberadaan rumah sakit berbasis Islam memiliki nilai strategis tersendiri, terutama bagi masyarakat Muslim yang membutuhkan fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak hanya mengedepankan aspek medis, tetapi juga nilai-nilai keislaman.

Virdy juga menyebut, RSIA Aisyiyah telah memiliki basis masyarakat yang loyal.
Kondisi tersebut, menjadi modal sosial yang harus dijaga bersamaan dengan upaya melakukan transformasi dan pengembangan pelayanan.
“Rumah sakit yang konsepnya Islami yang sudah bertahan seperti ini itu sudah hebat, punya fans fanatik sendiri. Dan itu yang harus tetap dipertahankan supaya nama baiknya tetap ada,” ujarnya.
Menurutnya, mempertahankan identitas Islami tidak berarti menghambat modernisasi pelayanan.
Sebaliknya, nilai tersebut harus menjadi bagian dari karakter rumah sakit ketika memperluas pelayanan menjadi rumah sakit umum.
“Kita sebagai umat Muslim pengennya warga Muslim juga punya tempat yang layak untuk berobat,” katanya.
Virdy juga mengungkapkan bahwa, kepercayaan untuk memimpin RSIA Aisyiyah Samarinda tidak diperolehnya secara instan.
Sebelum ditetapkan sebagai direktur, dirinya harus melalui proses seleksi dan sejumlah tahapan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang.
Ia menyebut terdapat beberapa kandidat yang mengikuti proses tersebut, termasuk kandidat dari luar daerah.
Setelah melalui rangkaian seleksi, dirinya akhirnya memperoleh kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Direktur RSIA Aisyiyah Samarinda.
“Saya mengikuti prosesnya, Saya ikuti seleksinya. Bukan karena saya dipilih begitu saja, tetapi memang melalui proses,” tuturnya.
Menurut Virdy, proses tersebut menjadi pengalaman penting karena dirinya tidak hanya diuji dari sisi kompetensi profesional sebagai dokter, tetapi juga dari aspek pemahaman terhadap nilai-nilai yang menjadi dasar pengelolaan rumah sakit.
Dalam proses seleksi tersebut, ia bahkan mendapatkan pertanyaan dan pengujian terkait pemahaman keagamaan, termasuk kemampuan membaca Al-Qur’an.
Hal tersebut, menurutnya, menjadi bagian yang berkesan, karena rumah sakit yang akan dipimpinnya memiliki karakter dan nilai Islami yang kuat.
Virdy mengatakan pengalaman tersebut, semakin memperkuat keyakinannya bahwa seorang pimpinan rumah sakit tidak cukup hanya memiliki kemampuan profesional dan manajerial, tetapi juga harus mampu memahami nilai dasar organisasi yang dipimpinnya.
Ia mengaku memilih, untuk tetap berkontribusi dan mengembangkan kapasitasnya di Samarinda, meskipun sebelumnya pernah mendapatkan peluang untuk melanjutkan pendidikan maupun berkarier di luar daerah, termasuk kesempatan memperoleh beasiswa ke Jerman.
Menurut Virdy, keputusan untuk tetap berada di Samarinda merupakan bagian dari keinginannya untuk memberikan manfaat di daerah sendiri.
Pengalaman pendidikan dan profesional, yang telah diperolehnya diharapkan dapat dikembangkan untuk mendukung kemajuan pelayanan kesehatan di Samarinda.
Dengan amanah baru tersebut, Virdy menegaskan bahwa fokus utama kepemimpinannya, adalah memastikan pelayanan kepada pasien tetap menjadi prioritas.
Transformasi menjadi rumah sakit umum, menurut dia, harus dilakukan secara terukur dan tidak menghilangkan karakter pelayanan yang selama ini telah melekat pada RSIA Aisyiyah.
Pengembangan layanan penyakit dalam dan bedah menjadi bagian dari rencana perluasan pelayanan.
Namun, pengembangan tersebut tetap harus mempertimbangkan kemampuan keuangan, ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas, serta keterbatasan lahan.
Ia berharap seluruh unsur di lingkungan RSIA Aisyiyah dapat bekerja bersama menghadapi tantangan tersebut.

Dukungan masyarakat, organisasi, tenaga kesehatan, serta jejaring rumah sakit di Samarinda juga dinilai penting dalam proses pengembangan ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Virdy turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran rumah sakit di Samarinda yang hadir dalam kegiatan pelantikan, termasuk perwakilan dari Rumah Sakit Hermina, Rumah Sakit Samarinda Medika (JMP), serta rumah sakit lainnya.
Menurutnya, kehadiran dan dukungan jejaring rumah sakit menjadi bagian penting, dalam membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang lebih baik di Kota Samarinda.
“Harapan Saya, memang rumah sakit ini harus tetap bisa memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat, dan dengan segala keterbatasan yang ada, kita akan berusaha mengoptimalkan apa yang kita miliki,” katanya.
Ia menambahkan, perubahan RSIA Aisyiyah menjadi rumah sakit umum, bukan semata-mata perubahan nama atau status kelembagaan, melainkan bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan yang semakin beragam.
Karena itu, Virdy berharap seluruh proses transformasi dapat berjalan dengan baik tanpa menghilangkan sejarah, nilai keislaman, serta kepercayaan masyarakat yang telah dibangun RSIA Aisyiyah Samarinda selama puluhan tahun.
“Yang paling penting adalah bagaimana pelayanan tetap berjalan, masyarakat tetap terlayani dengan baik, dan identitas rumah sakit sebagai rumah sakit yang memiliki konsep Islami tetap dipertahankan,” pungkasnya.
REDAKSI.













