![]()
Aliansi Pengusaha Unit Transportasi PHSS membawa tiga tuntutan terkait harga sewa, batas usia kendaraan dan penggunaan plat KT serta memberi tenggat 3×24 jam untuk mendapatkan respons.
MUARA BADAK, literasikaltim.com — Persoalan kemitraan transportasi di wilayah operasional Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS), kembali mencuat.
Aliansi Pengusaha Unit Transportasi PHSS menggelar aksi unjuk rasa dari Simpang 6 Muara Badak menuju titik operasional PHSS, Sabtu (12/9/2026).
Para pengusaha transportasi lokal membawa tiga tuntutan yang berkaitan dengan keberlangsungan usaha mereka, mulai dari harga sewa kendaraan, batas usia penggunaan armada, hingga status kendaraan yang diperbolehkan beroperasi di wilayah PHSS.
Tuntutan pertama, aliansi meminta penyesuaian harga sewa kendaraan lokal dalam kontrak transportasi, dengan nilai yang dinilai lebih adil dan layak bagi pengusaha setempat.
Kedua, mereka mendesak agar masa penggunaan kendaraan dibatasi maksimal lima tahun.
Ketiga, seluruh kendaraan yang beroperasi di wilayah PHSS diminta menggunakan nomor polisi Kalimantan Timur (KT).
Bagi aliansi, tiga poin tersebut bukan sekadar persoalan teknis kontrak.
Mereka menilai, kebijakan terkait armada transportasi turut menentukan keberlangsungan usaha pengusaha lokal serta perputaran ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasi migas.
Ketegangan semakin mencuat, setelah aliansi mempersoalkan ketidakhadiran pihak manajemen PHSS, dalam upaya mediasi yang difasilitasi DPRD.
Aliansi menyebut, Komisi I DPRD telah berupaya mempertemukan pihak-pihak terkait, untuk mencari jalan keluar atas persoalan transportasi tersebut.
Namun, menurut pihak aliansi, PHSS disebut tidak memenuhi panggilan tersebut.
Sikap itu kemudian dipertanyakan karena dinilai tidak menunjukkan keseriusan dalam membuka ruang penyelesaian bersama, dengan pengusaha transportasi lokal.
Aliansi juga mempertanyakan sejauh mana keberpihakan terhadap pelaku usaha lokal, yang berada di sekitar wilayah operasi migas dan selama ini menyediakan armada untuk menunjang aktivitas operasional.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan saat aksi, aliansi turut melontarkan sejumlah tudingan mengenai proses kontrak, yang melibatkan PT Ramai Jaya Abadi (RJA) sebagai kontraktor pemenang tender.
Namun, seluruh tudingan tersebut masih merupakan pernyataan dari pihak Aliansi Pengusaha Unit Transportasi, dan belum dapat dinyatakan sebagai fakta yang terverifikasi.
PHSS dan PT RJA perlu memberikan klarifikasi, serta hak jawab atas tudingan yang disampaikan dalam aksi tersebut.
Koordinator Lapangan Aliansi Pengusaha Unit Transportasi PHSS, Dani, menegaskan aksi yang digelar Sabtu tersebut belum menjadi akhir dari persoalan.
Aliansi memberikan batas waktu tiga kali 24 jam kepada pihak terkait untuk memberikan respons atas tiga tuntutan yang telah disampaikan.
Menurut Dani, apabila tenggat tersebut tidak mendapatkan jawaban, pihaknya akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa lebih besar.
“Kami memberikan waktu 3×24 jam, untuk mendapatkan respons dan jawaban atas tuntutan Kami,” ucapnya.
“Kalau dalam waktu tersebut tidak ada respons, dan Kami akan kembali melakukan aksi dengan jumlah massa yang berlipat ganda. aksi berikutnya bukan lagi aksi damai seperti hari ini,” tegas Dani.
Aksi yang berlangsung di wilayah Muara Badak itu sendiri, berjalan damai.
Namun, pernyataan aliansi menunjukkan persoalan belum menemukan titik penyelesaian.
Kini, tiga tuntutan dan tenggat 3×24 jam berada di meja pihak terkait.
Jawaban dari PHSS maupun pihak-pihak yang disebut dalam tuntutan, menjadi penting untuk memperjelas duduk persoalan sekaligus menentukan, apakah konflik kepentingan antara pengusaha transportasi lokal, dan perusahaan dapat diselesaikan melalui jalur dialog.
Bagi aliansi, persoalan tersebut menyangkut lebih dari sekadar tarif sewa kendaraan.
Mereka menilai keberadaan dan keberlanjutan pengusaha lokal di sekitar wilayah operasi migas, juga berkaitan dengan perputaran ekonomi masyarakat setempat.
“Kalau dalam waktu tersebut tidak ada respons, Kami akan kembali melakukan aksi dengan jumlah massa yang berlipat ganda. Dan aksi berikutnya bukan lagi aksi damai seperti hari ini,” pungkasnya.
REDAKSI.












