![]()
SAMARINDA, literasikaltim.com – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman (BEM FEB Unmul) melalui Departemen Kajian dan Aksi Strategis menyelenggarakan diskusi publik bertajuk **“Gonjang-Ganjing Rupiah terhadap Dolar:
Dinamika Nilai Tukar Rupiah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global”** pada Jumat (12/6/2026) malam di Bagios Coffe, Samarinda.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WITA tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi, mahasiswa, hingga pengamat.
Mereka di antaranya Dr. Aji Sofyan Effendi, SE., M.Si, Dr. Jauchar, M.Si, Gubernur BEM FEB 2025 Aditya Rahmat Hidayah, serta pengamat media dan geopolitik Yusup Rahman Hakim, M.Ipol.
Forum diskusi ini terbuka bagi mahasiswa dan delegasi organisasi kemahasiswaan dari berbagai kampus di Kalimantan Timur, sebagai ruang pertukaran gagasan mengenai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi Indonesia, khususnya terkait fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis Ekonomi dan Bisnis Unmul, Muhammad Rayhan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut digagas sebagai upaya memperluas literasi ekonomi di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pergerakan kurs rupiah.
Menurut Rayhan, masyarakat, khususnya mahasiswa, perlu memiliki pemahaman yang lebih mendalam mengenai kondisi ekonomi, agar tidak hanya melihat perubahan nilai tukar dari sisi permukaan, tetapi juga memahami faktor-faktor yang memengaruhi pergerakannya.
“Melalui kegiatan ini, Kami ingin memberikan pemahaman kembali kepada kelompok masyarakat dan mahasiswa mengenai bagaimana dampak pergerakan rupiah terhadap dolar,” ucap Rayhan saat di wawancarai awak media.

“Dan, Kami ingin membedah secara fundamental penyebab pelemahan rupiah serta melihat berbagai perspektif tentang bagaimana narasi yang dibangun agar rupiah dapat kembali stabil dan mengalami pemulihan,” ujarnya.
Ia menilai, penyebaran informasi yang utuh dan objektif menjadi aspek penting dalam menjaga ketenangan publik di tengah dinamika ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Menurutnya, persepsi dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang nasional memiliki pengaruh terhadap stabilitas ekonomi secara lebih luas.
Ketika kepanikan muncul dan kepercayaan terhadap rupiah menurun, perilaku ekonomi masyarakat dapat berubah dan berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar.
“Kami ingin masyarakat tetap percaya terhadap rupiah. Ketika kepercayaan menurun dan masyarakat panik, maka stabilitas negara juga bisa dipertanyakan. Orang cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen atau mata uang lain yang dianggap lebih aman atau safe haven, dan kondisi itu dapat memberi tekanan tambahan terhadap rupiah,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, peserta juga diajak memahami berbagai faktor yang dinilai berkontribusi terhadap pelemahan rupiah, mulai dari dinamika arus modal, kondisi ekonomi internasional, hingga aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sektor strategis nasional.
Rayhan menyampaikan bahwa dari berbagai paparan narasumber muncul pandangan mengenai pentingnya memperhatikan perputaran ekonomi di dalam negeri, termasuk dampak dari aliran keuntungan dan transaksi lintas negara terhadap sirkulasi uang nasional.
“Dari yang kami pahami melalui pemaparan para narasumber, ketika valuta asing dan keuntungan dari sektor-sektor tertentu kembali dibawa ke luar negeri, tentu terdapat pengaruh terhadap peredaran uang di Indonesia. Hal seperti ini penting dipahami masyarakat agar mengetahui bahwa persoalan ekonomi memiliki banyak dimensi dan tidak sesederhana perubahan angka kurs,” jelasnya.
Selain sebagai sarana edukasi, forum tersebut juga diarahkan menjadi ruang kritis bagi mahasiswa, untuk turut mengawal kebijakan Pemerintah yang berkaitan dengan stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Rayhan, pelemahan rupiah harus disikapi dengan kewaspadaan dan kesadaran, bukan kepanikan.
Aktivitas ekonomi masyarakat tetap perlu berjalan secara normal, sembari mendorong lahirnya kebijakan yang adaptif terhadap kondisi global.
“Kami juga ingin mengkritisi sekaligus memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah ketika rupiah sedang mengalami tekanan. Harapannya masyarakat tidak panik dan tetap menjalankan aktivitas ekonominya seperti biasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun nilai tukar rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, masyarakat tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global yang masih dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor, termasuk arus modal internasional serta situasi geopolitik.
“Kita melihat rupiah mulai mengalami rebound, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan, dan yang paling penting adalah menjaga kepercayaan terhadap mata uang Kita sendiri dengan tetap menggunakan rupiah dan tidak terburu-buru mengalihkan aset ke mata uang asing,” tegasnya.
Untuk memperluas dampak edukasi, BEM FEB Unmul turut mengundang perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa di lingkungan Universitas Mulawarman maupun kampus-kampus lain di Kalimantan Timur, khususnya di Samarinda.
Rayhan berharap forum serupa dapat terus menjadi ruang kolaborasi intelektual bagi mahasiswa, untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya, menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global yang terus berkembang.
“Kami mengundang BEM-BEM Universitas Mulawarman dan BEM-BEM di Kalimantan Timur, terutama di Samarinda, agar forum ini menjadi ruang bersama untuk berdiskusi, serta membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga stabilitas ekonomi nasional,” pungkasnya
Penulis: Rizky Aulia P
Editor: Masronaliansyah S.Pd












