![]()
PENAJAM PASER UTARA, literasikaltim.com – Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan terus mendapat perhatian dari kalangan akademisi.
Salah satunya dilakukan mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Kalimantan University Consortium bersama Borneo Studies Network (KKN KUC BSN) Tahun 2026, melalui penyelenggaraan Workshop Psikoedukasi bertajuk “Sekolah Rasa Aman” di SMP Negeri 27 Penajam Paser Utara.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Senin, 3 Agustus 2026 tersebut diprakarsai oleh mahasiswa Psikologi Untag Samarinda, Dean Hikam Dhaneza Ramadhan, sebagai bagian dari program kerja selama menjalani magang pada Deputi Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat, Direktorat Pelayanan Dasar Bidang Pendidikan.
Program ini menjadi bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat, sekaligus kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara.
Workshop tersebut, diikuti oleh 30 peserta didik yang berasal dari kelas VII, VIII, dan IX.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang secara interaktif, agar peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga mampu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Pelaksanaan workshop diawali dengan pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal peserta, terkait keamanan lingkungan sekolah, regulasi emosi, komunikasi, dan pencegahan bullying.
Selanjutnya peserta mengikuti penyampaian materi, diskusi kelompok, simulasi atau role play, sesi refleksi bersama, hingga diakhiri dengan post-test sebagai evaluasi terhadap peningkatan pengetahuan setelah mengikuti kegiatan.
Dalam sesi materi, peserta mendapatkan pemahaman mengenai konsep Sekolah Rasa Aman, pentingnya kemampuan mengelola emosi dalam menghadapi berbagai situasi di sekolah, penerapan komunikasi asertif sebagai sarana menyampaikan pendapat secara tepat tanpa menyakiti orang lain, serta edukasi mengenai berbagai bentuk bullying, dampaknya terhadap korban maupun pelaku, hingga langkah-langkah pencegahannya.

Berbagai metode pembelajaran partisipatif diterapkan, agar peserta dapat lebih aktif terlibat dalam proses belajar.
Melalui diskusi kasus yang diambil dari situasi nyata di lingkungan sekolah serta simulasi penyelesaian masalah, para siswa diajak membangun empati, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, sekaligus memperkuat keberanian untuk menolak maupun melaporkan tindakan perundungan.
Mahasiswa Psikologi Untag Samarinda, Dean Hikam Dhaneza Ramadhan, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah preventif untuk membangun budaya sekolah yang lebih positif, sekaligus meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan inklusif.
“Melalui workshop ini, kami berharap peserta didik semakin memahami pentingnya saling menghargai, mampu mengelola emosi dengan baik, berkomunikasi secara asertif, serta memiliki keberanian, untuk mencegah maupun melaporkan tindakan bullying. Lingkungan sekolah yang aman merupakan tanggung jawab bersama seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Menurut Dean, keberhasilan menciptakan sekolah yang aman tidak hanya bergantung pada tenaga pendidik, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif seluruh peserta didik dalam membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta menciptakan ruang belajar yang mendukung perkembangan setiap individu.
Melalui kegiatan psikoedukasi ini, diharapkan nilai-nilai yang telah diperoleh peserta dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu membentuk budaya sekolah yang lebih aman, nyaman, inklusif, serta mendukung perkembangan akademik maupun psikososial peserta didik.
Workshop “Sekolah Rasa Aman” juga menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda melalui program KKN KUC BSN Tahun 2026, dalam mendukung penguatan karakter generasi muda sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara.
“Kami berharap budaya saling menghargai dan kepedulian terhadap sesama dapat terus tumbuh di lingkungan sekolah, sehingga setiap peserta didik merasa aman untuk belajar, berkembang, dan meraih potensi terbaiknya,” pungkas Dean Hikam Dhaneza Ramadhan.
Penulis: Ira Rosalina
Editor: Andi Isnar













