DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Sekolah Rakyat Ubah Cara Pandang Siswa, Anak-anak Prasejahtera Kini Berani Bermimpi Raih Masa Depan.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

SAMARINDA, literasikaltim.com – Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah tidak hanya membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, tetapi juga berhasil mengubah cara pandang mereka terhadap masa depan.

Jika sebelumnya banyak siswa yang tidak memiliki cita-cita, kini mereka mulai berani bermimpi menjadi dokter, guru, pengusaha, hingga profesi lainnya yang dianggap mampu mengubah kehidupan keluarga mereka.

Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan pembinaan yang dilakukan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda.

Melalui pendekatan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, sekolah juga menanamkan karakter, membangun motivasi, serta menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Rabiatul Adawiyah, mengatakan perkembangan paling menonjol terlihat setelah para siswa mengikuti pembinaan selama satu tahun.

Menurutnya, anak-anak yang sebelumnya kesulitan menggambarkan masa depan kini mulai memiliki tujuan hidup yang ingin dicapai.

“Dulu banyak anak yang kalau ditanya cita-citanya masih bingung, bahkan ada yang tidak punya sama sekali, dan sekarang mereka mulai berani bermimpi dan punya tujuan yang ingin dicapai,” ujar Rabiatul saat kegiatan Open House di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Provinsi Kalimantan Timur di Jalan Ery Suparjan, Sabtu (17/6/2026).

Ia menjelaskan, keterbatasan ekonomi yang dialami keluarga siswa turut memengaruhi pola pikir mereka.

Minimnya akses informasi dan lingkungan yang kurang mendukung, membuat sebagian besar anak tidak memiliki gambaran mengenai berbagai peluang yang dapat diraih melalui pendidikan.

Karena itu, proses pembelajaran di Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga diarahkan untuk membangun karakter, menumbuhkan motivasi belajar, serta membantu siswa mengenali potensi yang dimiliki, agar mampu merancang masa depannya secara lebih optimistis.

Selain mengikuti pembelajaran di kelas, para siswa juga dibiasakan menerapkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Pembiasaan tersebut, terus dilanjutkan ketika memasuki masa libur sekolah melalui jurnal kegiatan yang wajib diisi siswa, sebagai panduan aktivitas positif di rumah.

Menurut Rabiatul, langkah tersebut bertujuan agar perubahan perilaku yang telah dibangun selama berada di sekolah dapat terus diterapkan di lingkungan keluarga, sehingga memberikan dampak positif yang lebih luas.

“Kami ingin perubahan itu tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dibawa ke lingkungan keluarga. Anak-anak diharapkan bisa menjadi contoh yang baik di rumah masing-masing,” katanya.

Dalam bidang akademik, sekolah juga menerapkan sistem evaluasi yang menyesuaikan kemampuan dan kesiapan belajar masing-masing siswa.

Peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu tidak serta-merta dinaikkan ke jenjang berikutnya, melainkan mendapatkan pendampingan secara intensif hingga benar-benar siap mengikuti proses pembelajaran selanjutnya.

Pendekatan tersebut, diterapkan agar kualitas pendidikan tetap terjaga sekaligus memastikan setiap siswa memperoleh pemahaman yang utuh terhadap materi yang diajarkan.

“Yang kami kejar bukan sekadar kelulusan atau kenaikan kelas, tetapi bagaimana anak-anak benar-benar memahami pelajaran dan berkembang sesuai kemampuannya,” jelasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur, Armin, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi Pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.

Ia menilai anak-anak yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan berkualitas, agar memiliki peluang memperbaiki taraf hidup di masa mendatang.

“Program ini memang dirancang untuk memutus kemiskinan melalui pendidikan. Harapannya, anak-anak yang hari ini hidup dalam keterbatasan bisa tumbuh menjadi generasi yang mampu mengubah nasib keluarganya,” ujarnya.

Armin menjelaskan, meskipun menggunakan kurikulum yang sama dengan sekolah formal pada umumnya, proses pembelajaran di Sekolah Rakyat memiliki tantangan yang lebih kompleks.

Guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berperan sebagai pendamping yang membangun kesiapan belajar, membentuk karakter, serta menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi nilai tambah Sekolah Rakyat dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Guru di Sekolah Rakyat bukan hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga mendampingi anak-anak agar percaya pada kemampuan dirinya. Itu yang menjadi tantangan sekaligus nilai lebih dari program ini,” tambahnya.

Armin juga memastikan bahwa lulusan Sekolah Rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Hal itu karena ijazah yang diterbitkan merupakan ijazah sekolah formal yang diakui secara resmi, sehingga para lulusan dapat bersaing dan melanjutkan studi sebagaimana peserta didik dari sekolah lainnya.

“Kami ingin anak-anak ini tidak berhenti sampai di sini. Mereka harus terus melanjutkan pendidikan dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik,” tukasnya.

Penulis: Grace
Editor: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *