DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Musda XI Golkar Samarinda Berakhir Aklamasi, Andi Satya Terpilih Jadi Ketua DPD Partai Golkar Samarinda.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

SAMARINDA, literasikaltim.com – Peta politik Partai Golongan Karya (Golkar) Kota Samarinda memasuki babak baru setelah Musyawarah Daerah (Musda) XI di Ballroom FUGO Hotel Samarinda, telah menetapkan dr. H. Andi Satya Adi Saputra, Sp.OG., M.Kes., secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Samarinda.

Tidak ada pertarungan terbuka, dalam perebutan kursi ketua, dan proses penjaringan yang sebelumnya dibuka akhirnya hanya menyisakan satu nama, setelah Andi Satya menjadi satu-satunya kandidat yang mengembalikan formulir pendaftaran.

Kondisi tersebut, kemudian diperkuat melalui musyawarah dan konsolidasi internal, hingga dukungan pemilik suara mengerucut kepada Andi Satya.

Aklamasi ini sekaligus, menjadi penanda bahwa Golkar Samarinda memilih jalan konsolidasi, dibandingkan pertarungan internal dalam menentukan nahkoda baru organisasi.

Namun, terpilih tanpa kontestasi bukan berarti Andi Satya memperoleh pekerjaan yang ringan.

Justru sebaliknya, di balik aklamasi tersebut terdapat sejumlah target politik yang harus dijawab, memperkuat struktur organisasi, meningkatkan perolehan kursi DPRD Kota Samarinda, merekrut kader dari generasi muda, serta mempersiapkan diri menghadapi dinamika politik menuju pemilihan wali kota mendatang.

Sekretaris DPD Partai Golkar Kalimantan Timur, Muhammad Husni Fahruddin, mengatakan keputusan menetapkan Andi Satya secara aklamasi, merupakan hasil proses musyawarah dan konsolidasi internal.

Menurutnya, sejumlah tokoh yang sebelumnya sempat masuk dalam dinamika pencalonan akhirnya menyatukan dukungan kepada Andi Satya.

“Semalam sudah Kami clear-kan secara musyawarah mufakat. Ada beberapa tokoh yang sebelumnya berkontestasi, termasuk Mas Sapto dan Dr. Adi. Tetapi yang lain bersatu padu mendorong Dr. Adi. Jadi sudah tidak ada calon lain,” ujar Husni saat diwawancarai awak media, Sabtu (8/8/2026).

Dengan kondisi tersebut, Musda XI tidak berkembang menjadi arena perebutan suara antarcalon.

Sebaliknya, forum justru mengukuhkan satu nama yang telah mendapatkan dukungan mayoritas pemilik suara, dan aklamasi pun menjadi keputusan akhir.

Setelah ditetapkan sebagai ketua, Andi Satya langsung dihadapkan pada pekerjaan besar.

Golkar Samarinda saat ini memiliki delapan kursi di DPRD Kota Samarinda, dan berada di posisi kedua, hanya terpaut satu kursi dari partai dengan sembilan kursi.

Bagi Andi Satya, kondisi tersebut harus menjadi pijakan untuk kembali membawa Golkar ke posisi puncak.

“Kami ingin membawa Golkar kembali ke puncak kejayaannya. Mudah-mudahan pada pemilu mendatang Golkar bisa mendapatkan suara terbanyak untuk DPRD Kota Samarinda. Syukur-syukur bisa menambah satu atau dua kursi,” kata Andi.

Target tersebut, menempatkan peningkatan kursi DPRD sebagai salah satu agenda utama kepengurusan baru.

Delapan kursi bukan lagi sekadar angka hasil pemilu sebelumnya, tetapi menjadi modal untuk membangun target politik berikutnya.

Jika tambahan satu atau dua kursi berhasil diraih, Golkar berpeluang memperkuat posisi tawarnya dalam konfigurasi politik DPRD Kota Samarinda.

Andi Satya juga menyadari bahwa, perebutan suara pada masa mendatang tidak dapat hanya mengandalkan basis pemilih lama.

Perubahan generasi menjadi faktor penting dalam strategi politik partai, dan menurutnya, Gen Z dan milenial akan menjadi kelompok yang sangat menentukan dalam pemilu mendatang.

“Pemilu yang akan datang akan didominasi oleh dua kelompok, Gen Z dan milenial. Akan sangat rugi bagi Partai Golkar kalau tidak bisa menarik kader-kader baru dari dua kelompok ini,” ujar Andi.

Karena itu, rekrutmen kader muda akan menjadi salah satu agenda, yang didorong kepengurusan baru.

“Kami akan banyak melakukan sosialisasi dan rekrutmen kader yang berasal dari Gen Z dan milenial,” lanjutnya.

Bagi Golkar, strategi tersebut bukan hanya bertujuan mengejar suara pemilih muda, tetapi juga menyiapkan regenerasi organisasi dalam jangka panjang.

Golkar merupakan salah satu partai politik senior di Indonesia, dengan sejarah panjang.

Namun, bagi Andi Satya, usia organisasi tidak boleh membuat partai berhenti beradaptasi.

Ia menilai perubahan zaman menuntut perubahan cara berpikir, cara bekerja dan cara membangun komunikasi dengan masyarakat.

“Setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya,” kata Andi.

Menurutnya, Golkar harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar tetap diterima masyarakat.

“Partai Golkar adalah partai senior di Indonesia, sehingga harus mampu mengikuti perkembangan zaman agar bisa diterima di era sekarang,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi penting, karena kepemimpinan baru Golkar Samarinda akan menghadapi karakter pemilih yang semakin beragam dan kritis.

Selain target kursi legislatif, jabatan Ketua DPD Golkar Samarinda juga membawa konsekuensi politik terkait pemilihan wali kota mendatang.

Dalam proses penetapan ketua, terdapat komitmen organisasi, agar ketua terpilih bersedia maju sebagai calon kepala daerah.

Husni menegaskan, ketentuan tersebut menjadi bagian dari komitmen yang berlaku, bagi ketua DPD Golkar kabupaten dan kota.

“Siapapun yang terpilih menjadi ketua, syarat utamanya harus maju sebagai calon kepala daerah. Wajib,” kata Husni.

Karena Andi Satya telah terpilih sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kota Samarinda, maka dirinya diproyeksikan untuk maju sebagai calon wali kota Samarinda.

“Kalau hari ini Dr. Adi terpilih menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kota Samarinda, maka wajib menjadi calon wali kota,” tegas Husni.

Namun, Andi Satya tidak ingin terburu-buru mengunci arah politik tersebut.

Ia menyebut, kontestasi masih memiliki rentang waktu sehingga dinamika politik dapat berubah.

“Ini sebenarnya bukan isu. Dalam hal integritas, ketua Golkar Kota Samarinda bersedia maju sebagai wali kota pada pemilihan wali kota yang akan datang,” kata Andi.

“Nanti kita lihat, seperti apa kesempatan dan seperti apa dinamika politik Kaltim. Karena ini masih jauh,” sambungnya.

Dengan demikian, pintu menuju Pilwalkot Samarinda terbuka, tetapi konstelasi politik masih menjadi faktor yang akan menentukan perjalanan selanjutnya.

Bagi Andi Satya, Musda XI tidak boleh berhenti pada keputusan memilih ketua, dan aklamasi hanyalah awal.

Setelah kepemimpinan terbentuk, organisasi harus segera bergerak melakukan konsolidasi struktur hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

Kaderisasi juga harus diperkuat agar partai tidak hanya memiliki struktur, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang mampu bekerja menghadapi tantangan politik masa depan.

Andi Satya ingin Musda, menjadi titik awal perubahan budaya organisasi.

“Kami ingin Musda ini bukan hanya menghasilkan rumusan baru. Lebih penting dari itu, harus menghasilkan semangat baru, budaya baru, etos kerja baru dan komitmen baru untuk kembali menjadikan Partai Golkar sebagai kekuatan politik terdepan di Kota Samarinda,” pungkas Andi.

REDAKSI.

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *