![]()
SAMARINDA, literasikaltim.com – Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 57 Samarinda membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk memberikan kritik, saran, maupun masukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Open House yang digelar di lingkungan BPVP Samarinda di Jalan Untung Suropati, Samarinda, Sabtu (20/6/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan program Sekolah Rakyat kepada masyarakat, tetapi juga sebagai sarana transparansi penyelenggaraan pendidikan, sekaligus membangun kepercayaan publik terhadap program pendidikan gratis berasrama yang digagas Pemerintah.
Kepala SRT 57 Samarinda, Pahrijal, mengatakan keterlibatan masyarakat dalam memberikan evaluasi menjadi bagian penting dalam proses pengembangan sekolah.
Menurutnya, setiap kritik dan masukan yang disampaikan akan menjadi bahan perbaikan, agar pelayanan pendidikan terus berkembang dan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik.
“Melalui kegiatan Open House ini Kami berharap ada masukan, evaluasi, dan kritik dari masyarakat. Semua itu akan membuat sekolah kami menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.
Pahrijal menjelaskan, Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan gratis berasrama yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, sebagai salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Program tersebut, secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kategori Desil 1 dan Desil 2, yakni kelompok masyarakat dengan kondisi ekonomi paling rentan.
Dengan sistem pembiayaan yang sepenuhnya ditanggung negara, siswa memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan tanpa harus terbebani persoalan biaya.
Seluruh kebutuhan peserta didik, mulai dari biaya pendidikan, tempat tinggal di asrama, konsumsi harian, pakaian, hingga berbagai kebutuhan penunjang pembelajaran disediakan secara gratis, sehingga siswa dapat fokus mengikuti proses pendidikan.
“Sekolah Rakyat hadir untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak, yang selama ini mengalami keterbatasan akses pendidikan agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik,” katanya.
Ia menambahkan, proses penerimaan siswa di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah pada umumnya.
Seleksi dilakukan berdasarkan pendataan yang melibatkan Dinas Sosial bersama Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga sekolah tidak membuka pendaftaran secara umum.
Menurutnya, mekanisme tersebut memastikan program benar-benar menyasar anak-anak yang membutuhkan intervensi pendidikan, sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga di masa depan.
Dalam pelaksanaannya, SRT 57 Samarinda menghadapi beragam tantangan karena karakteristik siswa yang berasal dari latar belakang berbeda-beda.
Sebagian peserta didik masih mengalami kesulitan membaca, pernah putus sekolah, memiliki rasa percaya diri yang rendah, belum terbiasa menjalani pola hidup disiplin, hingga menghadapi persoalan kesehatan maupun kebersihan diri.
Meski demikian, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari misi utama Sekolah Rakyat.
Melalui sistem pendidikan berasrama, seluruh siswa mendapatkan pembinaan secara menyeluruh, baik dalam aspek akademik maupun pembentukan karakter.
Pendidikan karakter menjadi prioritas utama yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Para siswa dibiasakan menjalani pola hidup disiplin melalui berbagai aktivitas yang terjadwal, mulai dari bangun pagi, melaksanakan salat berjamaah, mengaji, menjaga kebersihan lingkungan, hingga mengurus kebutuhan pribadi secara mandiri.
Untuk memperkuat pembentukan karakter tersebut, sekolah juga menggandeng unsur TNI dalam memberikan pembinaan mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemandirian kepada para siswa.
Selain itu, penggunaan telepon genggam dibatasi agar peserta didik lebih fokus mengikuti pembelajaran, memperkuat interaksi sosial dengan teman sebaya, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan positif yang telah diprogramkan sekolah.
Tidak hanya mengembangkan karakter, Sekolah Rakyat juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler di bidang seni, olahraga, literasi, teknologi, hingga pengembangan kreativitas lainnya.
Sebagai penunjang pembelajaran berbasis digital, setiap siswa juga difasilitasi dengan perangkat laptop.
Pahrijal mengungkapkan berbagai program pembinaan tersebut, mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Perubahan positif terlihat dari meningkatnya rasa percaya diri para siswa, kemampuan berkomunikasi di depan publik, hingga tumbuhnya sikap mandiri dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Menurutnya, sejumlah siswa kini telah mampu menjadi imam salat, tampil dalam berbagai kegiatan sekolah, serta tidak lagi bergantung pada penggunaan telepon genggam sebagai sarana hiburan.
Ia optimistis, dengan pola pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik, pembentukan karakter, dan pengembangan keterampilan hidup, Sekolah Rakyat akan mampu melahirkan generasi muda yang berprestasi, berakhlak, mandiri, serta memiliki kemampuan untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya melalui pendidikan.
“Anak-anak sekarang lebih mandiri, tidak bergantung pada HP, berani tampil di depan umum, bahkan sudah ada yang menjadi imam salat dan tampil dalam berbagai kegiatan,” pungkasnya.
Penulis: Grace
Editor: Andi Isnar












