Diskominfo Kutim

IKN Ramai Dikunjungi, Mengapa Hotel di Kaltim Masih Sepi?

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

EUFORIA IKN belum otomatis menjadi berkah bagi industry Hospitality.

Oleh: Y. Armunanto Somalinggi, SH., ST., MM.

SAMARINDA, literasikaltim.com – Kawasan Plaza Seremoni dengan latar belakang Istana Garuda IKN yang megah, menjadi spot wajib berswafoto (selfie). sourceimage:kompas.com

Ribuan orang datang ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Jalan menuju kawasan inti pemerintahan semakin ramai, dan konten media sosial tentang IKN terus bermunculan.

Kunjungan pejabat, investor, akademisi, hingga wisatawan rasa penasaran seolah tidak pernah berhenti.

Namun di tengah euforia itu, ada pertanyaan yang diam-diam mulai terdengar dari pelaku industri hospitality di Kalimantan Timur:

Mengapa hotel-hotel masih belum benar-benar penuh?

Fenomena ini menjadi paradoks yang menarik. Di satu sisi, IKN berhasil menciptakan perhatian nasional bahkan internasional.

Tetapi di sisi lain, sebagian hotel di Samarinda, Balikpapan, maupun daerah penyangga lainnya masih menghadapi tantangan okupansi yang belum stabil.

Bahkan beberapa pelaku usaha hotel mengakui bahwa tingkat hunian belum mengalami lonjakan signifikan seperti yang sebelumnya dibayangkan.

Padahal, secara logika sederhana, meningkatnya arus kunjungan ke suatu wilayah semestinya berdampak langsung pada pertumbuhan industri perhotelan.

Namun realitas di lapangan ternyata tidak sesederhana itu. Fenomena ini perlu dipahami secara lebih jernih dan objektif.

Sebab, euforia pembangunan IKN belum otomatis menjadi berkah instan bagi industri hospitality Kalimantan Timur.

Salah satu penyebab utama adalah karakter kunjungan ke IKN saat ini masih didominasi oleh “curiosity tourism” atau wisata rasa penasaran.

Banyak pengunjung datang hanya untuk melihat perkembangan pembangunan, berfoto, lalu kembali pada hari yang sama tanpa menginap dalam durasi panjang.

Dalam perspektif pariwisata modern, kondisi ini sebenarnya lumrah terjadi pada destinasi yang masih berada dalam tahap awal pengembangan.

Orang datang karena penasaran terhadap simbol besar bernama “ibu kota baru”, bukan karena ekosistem wisatanya sudah matang.

Akibatnya, pergerakan wisatawan belum sepenuhnya menghasilkan dampak ekonomi yang optimal bagi hotel dan industri hospitality secara luas.

Sebagian besar kunjungan masih bersifat singkat, transit, atau perjalanan dinas dengan efisiensi anggaran yang ketat.

Bahkan m, banyak tamu pemerintahan kini mulai mengurangi durasi menginap, karena kebijakan penghematan perjalanan dinas.

Kondisi ini turut memengaruhi pendapatan hotel-hotel, yang selama bertahun-tahun cukup bergantung pada pasar kegiatan pemerintahan dan meeting.

Di sisi lain, pola wisata masyarakat juga mengalami perubahan besar pascapandemi dan era digital.

Wisatawan modern, khususnya generasi muda, tidak lagi hanya mencari tempat menginap. Mereka mencari pengalaman.

Hari ini, orang memilih destinasi karena memiliki cerita, aktivitas unik, spot visual menarik, pengalaman budaya, hingga nilai emosional yang dapat dibagikan di media sosial.

Sayangnya, hingga saat ini, kawasan IKN masih lebih banyak dipersepsikan sebagai lokasi pembangunan, dibanding destinasi wisata yang menawarkan pengalaman lengkap.

Inilah tantangan besar industri pariwisata Kalimantan Timur ke depan. IKN memang berhasil menghadirkan perhatian, tetapi perhatian belum tentu otomatis berubah menjadi lama tinggal wisatawan atau peningkatan belanja wisata.

Padahal dalam industri hospitality, yang paling penting bukan sekadar jumlah kunjungan, melainkan length of stay atau lama tinggal wisatawan.

Semakin lama wisatawan tinggal, semakin besar dampak ekonomi yang dirasakan hotel, restoran, UMKM, transportasi lokal, hingga destinasi wisata lainnya.

Jika wisatawan hanya datang melihat IKN selama beberapa jam lalu pulang, maka efek ekonominya menjadi sangat terbatas.

Kondisi ini juga diperparah, oleh belum kuatnya integrasi antara wisata IKN dengan destinasi unggulan Kalimantan Timur lainnya.

Padahal Kaltim memiliki potensi wisata yang luar biasa: wisata sungai di Samarinda, wisata bahari Balikpapan, ekowisata hutan tropis, wisata budaya Dayak, wisata orangutan, hingga potensi desa wisata berbasis masyarakat.

Sayangnya, banyak potensi tersebut masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung menjadi paket pengalaman wisata yang utuh.

Akibatnya, wisatawan datang ke IKN tanpa memiliki alasan kuat untuk tinggal lebih lama di Kalimantan Timur.

Di sisi lain, industri hotel juga menghadapi tantangan perubahan perilaku pasar. Kehadiran homestay, guest house, hingga platform digital seperti Airbnb mulai menjadi alternatif bagi wisatawan yang lebih mengutamakan harga murah dan fleksibilitas.

Artinya, hotel kini tidak bisa lagi hanya mengandalkan fasilitas kamar semata, dan hotel harus berubah menjadi pusat pengalaman.

Konsep hospitality modern saat ini menuntut hotel menghadirkan sesuatu yang lebih personal, lebih lokal, dan lebih memorable.

Wisatawan ingin merasakan identitas daerah, cerita budaya, kuliner khas, keramahan lokal, hingga pengalaman autentik yang tidak mereka dapatkan di tempat lain.

Karena itu, momentum IKN seharusnya menjadi titik transformasi industri hospitality Kalimantan Timur, bukan sekadar menunggu “banjir tamu”.

Hotel-hotel di Kaltim perlu mulai membangun diferensiasi. Bukan hanya menjual kamar, tetapi menjual pengalaman khas Kalimantan Timur.

Misalnya melalui paket wisata budaya pampang, river tour susur Sungai Mahakam, culinary experience, eco tourism, wisata komunitas, hingga event-event kreatif yang melibatkan masyarakat lokal.

Pemerintah Daerah juga perlu melihat bahwa, pembangunan pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan Mega proyek IKN.

Yang jauh lebih penting, adalah membangun ekosistem pariwisata yang hidup dan berkelanjutan.

Konektivitas antar destinasi harus diperkuat. Kalender event daerah harus diperbanyak dan dikemas profesional.

Branding wisata Kalimantan Timur juga harus lebih agresif dan modern.

Jika tidak, maka Kaltim berisiko hanya menjadi “tempat singgah pembangunan”, tanpa benar-benar menjadi destinasi wisata unggulan.

Yang lebih penting lagi adalah, memastikan masyarakat lokal ikut menikmati dampak ekonomi pariwisata.

Jangan sampai IKN hanya menghadirkan keramaian visual, tetapi tidak memberikan pemerataan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal.

Fenomena belum optimalnya dampak IKN terhadap industri hospitality, sebenarnya juga tercermin dari data tingkat hunian hotel di Kalimantan Timur, yang masih fluktuatif.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur mencatat bahwa, meskipun terjadi peningkatan mobilitas masyarakat dan kunjungan ke kawasan IKN, tingkat penghunian kamar hotel berbintang di beberapa kota penyangga belum menunjukkan lonjakan signifikan secara konsisten.

Hal ini menunjukkan bahwa, arus kunjungan ke IKN saat ini masih lebih dominan berupa kunjungan singkat (short visit) dibandingkan wisata tinggal (stay tourism).

Dalam perspektif ekonomi pariwisata, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa, efek multiplier dari pembangunan IKN terhadap sektor hospitality masih berada pada tahap awal, dan belum sepenuhnya terdistribusi secara merata ke industri hotel, restoran, maupun pelaku usaha wisata lokal.

Pariwisata yang sehat seharusnya mampu menciptakan multiplier effect: hotel hidup, restoran ramai, UMKM tumbuh, transportasi bergerak, dan masyarakat lokal merasakan peningkatan kesejahteraan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan IKN bukan hanya diukur dari megahnya gedung pemerintahan atau ramainya kunjungan sesaat, tetapi sejauh mana pembangunan tersebut, mampu menciptakan kehidupan ekonomi yang nyata, dan berkelanjutan bagi daerah sekitarnya.

IKN memang berhasil menghadirkan perhatian besar bagi Kalimantan Timur. Namun perhatian saja tidak cukup.

Industri hospitality membutuhkan wisatawan yang tinggal lebih lama, menikmati destinasi lebih dalam, dan membelanjakan pengalamannya di daerah ini.

Sebab dalam dunia pariwisata, keramaian belum tentu kesejahteraan.

Penulis,
Y. Armunanto Somalinggi, SH., ST., MM.

  • Dosen Industri Prodi. Pariwisata Politeknik Negeri Samarinda
  • Pengamat, Pemerhati dan Praktisi Hospitality.

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *