DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Ratusan Siswa dari Berbagai Daerah Ikuti MPLS SMK Medika Samarinda, Asrama Penuh Terisi.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

Musmuliadi: Kami Ingin Medika Tidak Hanya Go Nasional, tetapi Juga Go Internasional

SAMARINDA, literasikaltim.com – SMK Medika Samarinda kembali melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Gelombang II bagi peserta didik baru Tahun Ajaran 2026/2027, di lantai 2 Mall Samarinda Square, Jalan M. Yamin, Kamis (16/7/2026).

Kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk komitmen sekolah dalam memberikan kesempatan kepada calon siswa, yang belum sempat mengikuti MPLS gelombang pertama, khususnya mereka yang berasal dari luar daerah.

Kepala SMK Medika Samarinda, Musmuliadi, mengatakan pelaksanaan MPLS gelombang kedua diikuti sekitar 240 peserta didik.

Sebelumnya, pada gelombang pertama telah mengikuti kegiatan sekitar 330 siswa.

Dengan demikian, total peserta didik baru yang diterima tahun ini mencapai hampir 600 orang.

Menurutnya, penyelenggaraan MPLS dua gelombang dilakukan untuk mengakomodasi siswa yang mengalami kendala hadir pada pelaksanaan pertama, terutama mereka yang berasal dari berbagai daerah di luar Kota Samarinda.

“Tahun ini jumlah peserta didik baru hampir mencapai 600 orang. Gelombang kedua Kami laksanakan karena ada siswa dari luar daerah yang belum bisa mengikuti MPLS sebelumnya,” ujarnya.

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, SMK Medika Samarinda menyusun materi MPLS yang tidak hanya berfokus pada pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga memberikan penguatan karakter sebagai fondasi utama dalam proses pendidikan.

Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai public speaking, komunikasi, motivasi, ketertiban masyarakat, kepemimpinan, hingga pembentukan sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dalam kehidupan sehari-hari.

Musmuliadi menjelaskan, konsep pendidikan di SMK Medika Samarinda menempatkan pembentukan karakter, sebagai prioritas utama dengan komposisi sekitar 70 persen, sementara pembelajaran teori diberikan sekitar 30 persen.

Selain pembinaan karakter, sekolah juga memperkuat pendidikan spiritual seluruh peserta didik sesuai agama masing-masing.

Siswa Muslim dibiasakan melaksanakan Salat Dhuha dan Salat Zuhur berjamaah, sedangkan peserta didik non-Muslim mendapatkan pembinaan rohani yang dipandu pastor maupun pendeta.

“Yang Kami bangun bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga karakter, akhlak, komunikasi, tanggung jawab, serta keimanan siswa agar menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia kerja,” jelasnya.

Ia menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan pada MPLS gelombang pertama maupun kedua memiliki materi dan pola pembinaan yang sama.

Perbedaannya, hanya terletak pada waktu pelaksanaan dan asal peserta didik.

“Gelombang pertama didominasi siswa dari Samarinda, sedangkan gelombang kedua lebih banyak berasal dari luar daerah. Namun seluruh materi dan pembinaannya tetap sama selama tiga hari,” katanya.

Tidak hanya diminati masyarakat Kalimantan Timur, SMK Medika Samarinda juga menjadi pilihan pelajar dari berbagai wilayah Indonesia.

Tahun ini, peserta didik baru tercatat berasal dari Berau, Malinau, Mahakam Ulu, Lampung, Sulawesi Tengah, Tanah Toraja, Semarang hingga Papua.

Untuk mendukung kenyamanan siswa dari luar daerah, sekolah menyediakan 68 unit asrama yang saat ini telah terisi penuh.

Bahkan, sekolah terpaksa memanfaatkan ruang sementara sambil menyiapkan pembangunan asrama tambahan karena tingginya minat calon peserta didik.

Musmuliadi menilai keberadaan asrama menjadi salah satu faktor penting, dalam mendukung pemerataan akses pendidikan vokasi bagi siswa dari berbagai daerah.

“SMK Medika Samarinda bukan hanya milik Kalimantan Timur, tetapi milik seluruh masyarakat Indonesia. Siapa pun yang ingin belajar dan mengembangkan diri kami fasilitasi, termasuk tempat tinggal di asrama,” ungkapnya.

Komitmen sekolah dalam menyiapkan lulusan berdaya saing internasional juga mulai menunjukkan hasil.

Saat ini, salah seorang alumni SMK Medika Samarinda telah bekerja di Jepang, dengan penghasilan sekitar Rp25 juta per bulan.

Sekolah bahkan, memberikan pembinaan intensif selama enam bulan di Cikarang bagi siswa yang lolos seleksi kerja ke Jepang.

Program tersebut meliputi pelatihan bahasa Jepang, budaya kerja, pembentukan karakter, hingga pembiayaan tiket keberangkatan yang seluruhnya ditanggung sekolah.

Salah seorang peserta didik asal Mahakam Ulu, Laura Tri Ananda Hiping, mengaku memilih SMK Medika karena kualitas pendidikan yang sudah dikenal baik di daerah asalnya.

Ia mengetahui sekolah tersebut dari rekomendasi teman-temannya dan tertarik karena kualitas guru, banyaknya kegiatan ekstrakurikuler, serta fasilitas yang disediakan sekolah.

Laura memilih Program Keahlian Teknik Laboratorium Medik, dan berharap SMK Medika Samarinda terus berkembang menjadi sekolah yang semakin maju.

Hal serupa disampaikan Claudius Saputra Sare asal Muara Wahau. Ia mengaku memilih SMK Medika Samarinda, karena rekomendasi teman serta kegiatan ekstrakurikuler yang beragam, khususnya futsal.

Selama menempuh pendidikan, ia juga tinggal di asrama yang disediakan sekolah secara gratis.

Dengan konsep pendidikan yang mengedepankan penguatan karakter, pembinaan spiritual, serta peluang kerja hingga ke luar negeri, SMK Medika Samarinda optimistis mampu mencetak lulusan yang unggul, berintegritas, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Saya ingin bahwa Medika bukan hanya go nasional, tapi juga bisa go internasional dan itu sudah bisa dibuktikan bahwa anak-anak Medika sudah tembus bekerja di Jepang,” tuturnya.

“Dan, siapa pun yang lolos seleksi akan kami biayai pembinaannya sampai berangkat ke Jepang. Gratis bagi anak,” pungkas Musmuliadi.

Penulis: Rizky A.P
Editor: Masronaliansyah S.Pd

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *