![]()
SANGATTA, literasikaltim.com – Menghadirkan pengalaman berwisata, sekaligus membangun kesadaran menjaga lingkungan menjadi salah satu pesan utama dalam penyelenggaraan Borneo Camp 2026 di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).
Kegiatan yang berlangsung di Pantai Sekerat, Kecamatan Bengalon, pada 6–8 November 2026 tersebut dirancang tidak hanya sebagai pertemuan komunitas, tetapi juga sebagai ruang pengenalan kekayaan alam dan kebudayaan lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Mahriadi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut membawa pesan penting bagi seluruh peserta mengenai tanggung jawab terhadap lingkungan.
Menikmati keindahan alam, menurut konsep kegiatan ini, harus dibarengi dengan perilaku yang tidak merusak kawasan wisata.
Pesan itu menjadi relevan karena kegiatan Borneo Camp mempertemukan sekitar 500 peserta dari berbagai komunitas, baik dari dalam maupun luar Kutim.
Melalui pertemuan tersebut, peserta diajak mengenal lingkungan alam Pantai Sekerat sekaligus memahami pentingnya menjaga kelestarian kawasan yang menjadi tujuan kunjungan.
Mahriadi menekankan bahwa, aktivitas pariwisata seharusnya tidak meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan.
Setiap pengunjung diharapkan mampu menjaga kebersihan, menghormati alam, serta tidak mengambil bagian dari kekayaan kawasan yang dikunjungi.
“Jangan mengambil apa pun selain gambar. Jangan meninggalkan apa pun selain kenangan,” katanya.
Selain membawa pesan pelestarian lingkungan, Borneo Camp 2026 juga menghadirkan rangkaian kegiatan yang memperkenalkan identitas budaya dan kekayaan sejarah Kutim.
Salah satunya melalui pemutaran film dokumenter Karst Sangkulirang-Mangkalihat, yang mengajak peserta mengenal lebih dekat bentang alam karst beserta nilai sejarah yang dimilikinya.
Pengenalan budaya lokal juga diperkuat melalui pertunjukan Tari Hudoq bertajuk “The Guardian of Life” oleh kelompok seni Kelang Tegai.
Kesenian tradisional ini, menjadi bagian dari upaya memperlihatkan kekayaan ekspresi budaya masyarakat kepada para pengunjung.
Nuansa khas Kalimantan turut hadir, melalui permainan alat musik tradisional sape yang dibawakan Risnaldi.
Penampilan tersebut, menambah pengalaman peserta dalam menikmati perpaduan suasana alam dan kebudayaan lokal di kawasan pesisir Pantai Sekerat.
Di sisi lain, kegiatan ini turut membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk mengambil bagian dalam aktivitas ekonomi selama penyelenggaraan berlangsung.
Kehadiran ratusan peserta menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal, untuk menawarkan berbagai kebutuhan, mulai dari makanan dan minuman, layanan penginapan, hingga produk kerajinan tangan.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat menjadi salah satu pihak yang berpotensi memperoleh manfaat dari aktivitas pengunjung.
Dengan demikian, penyelenggaraan kegiatan pariwisata tidak hanya memberikan pengalaman rekreasi, tetapi juga menciptakan ruang transaksi ekonomi bagi masyarakat di sekitar destinasi.
Borneo Camp 2026 memperlihatkan bahwa, pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan pengenalan budaya, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi lokal.
“Pantai Sekerat menjadi ruang pertemuan berbagai unsur tersebut, melalui kegiatan yang melibatkan komunitas dari beragam daerah,” tutupnya.
Penulis: Andi Isnar












