![]()
MUARA KAMAN, literasikaltim.com – Ketua Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) Kalimantan Timur (Kaltim), H. Mugeni, bersama jajaran pengurus turut menghadiri rangkaian Erau Adat Benua Tuha 2026, yang digelar di Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Kehadiran jajaran ABPEDNAS Kaltim, menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya masyarakat dalam menjaga dan melestarikan adat istiadat, serta kebudayaan lokal yang menjadi warisan leluhur.
Erau Adat Benua Tuha 2026 sendiri berlangsung selama delapan hari, mulai 25 Agustus hingga 1 September 2026.
Kegiatan tersebut, turut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Adji Muhammad Arifin serta mantan Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah.
Kehadiran para tokoh tersebut, menambah semarak sekaligus menunjukkan kuatnya perhatian terhadap pelestarian budaya dan tradisi masyarakat, di wilayah Muara Kaman.
Erau Adat Benua Tuha merupakan agenda adat tahunan, yang tidak hanya menghadirkan berbagai kesenian tradisional, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat, untuk mempererat silaturahmi dan menjaga keberlangsungan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi ABPEDNAS Kaltim, pelestarian budaya memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan Desa.
Desa bukan hanya menjadi pusat Pemerintahan dan pelayanan masyarakat, tetapi juga memiliki kekayaan adat, tradisi serta kearifan lokal yang perlu dijaga sebagai bagian dari identitas daerah.
H. Mugeni menilai keterlibatan Pemerintah Desa, BPD, tokoh adat, tokoh masyarakat dan seluruh elemen warga sangat penting, agar kegiatan kebudayaan seperti Erau tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, BPD memiliki posisi strategis dalam kehidupan Pemerintahan Desa.
Sebagai lembaga yang menjalankan fungsi representasi masyarakat desa, BPD dapat turut mendorong lahirnya kebijakan dan program Desa, yang memperhatikan kepentingan masyarakat, termasuk dalam menjaga adat, budaya serta potensi lokal.
“ABPEDNAS Kaltim terus mendorong agar BPD dapat menjalankan fungsi dan tugasnya secara optimal, baik dalam fungsi membahas dan menyepakati peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat maupun melakukan pengawasan terhadap kinerja kepala desa,” ujar H. Mugeni.
Ia menambahkan, penguatan kelembagaan BPD harus berjalan beriringan dengan pembangunan Desa.
Aspirasi masyarakat yang berkaitan dengan kebudayaan, pariwisata, pemberdayaan masyarakat maupun pengembangan potensi ekonomi lokal dapat menjadi bagian dari perhatian dalam proses perencanaan pembangunan desa.
Dalam konteks Erau Adat Benua Tuha, ABPEDNAS Kaltim juga melihat adanya potensi besar, untuk mengembangkan kebudayaan lokal menjadi daya tarik wisata berbasis masyarakat.
Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan adat dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian warga, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Muara Kaman kepada masyarakat yang lebih luas.
“Desa memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan, termasuk potensi budaya dan wisata. Karena itu, sinergi antara pemerintah desa, BPD, masyarakat, tokoh adat dan seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat agar potensi tersebut memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Erau Adat Benua Tuha 2026 juga menjadi momentum, untuk menanamkan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi muda.
Keterlibatan generasi muda dinilai penting, agar berbagai tradisi dan kesenian daerah tidak tergerus perkembangan zaman.
Selain sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, pelaksanaan Erau juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat.
Semangat tersebut, sejalan dengan pentingnya membangun desa melalui partisipasi aktif seluruh masyarakat.
ABPEDNAS Kaltim berkomitmen terus mendorong peningkatan kapasitas dan peran BPD di seluruh Desa di Kaltim.
Keberadaan BPD diharapkan mampu menjadi mitra strategis Pemerintah Desa, sekaligus memastikan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dalam proses penyelenggaraan Pemerintahan dan pembangunan Desa.
“Kami berharap Erau Adat Benua Tuha dapat terus dilestarikan dan menjadi agenda budaya yang semakin berkembang. Mari bersama-sama menjaga, merawat dan melestarikan warisan leluhur, sekaligus memperkuat peran desa agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Andi Isnar













