DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Kolaborasi KAGAMA, PPIT, dan Bankaltimtara Hidupkan Wisata Heritage Pecinan Samarinda.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

Direktur Operasional & Manajemen Risiko Bankaltimtara: Harmoni Mahakam Bukan Sekadar Walking Tour, tetapi Edukasi Sejarah.

SAMARINDA, literasikaltim.com – Semangat melestarikan sejarah dan keberagaman budaya mewarnai pelaksanaan Harmoni Mahakam: Muara Lintas Budaya, sebuah kegiatan Walking Tour & Mini Festival Heritage yang digelar Pengurus Cabang Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Pengcab KAGAMA) Kota Samarinda bekerja sama dengan Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok (PPIT) Kalimantan Timur (Kaltim), Minggu (26/7/2026).

Kegiatan yang didukung Pemerintah Kota Samarinda, Pemerintah Provinsi Kaltim, serta disponsori Bankaltimtara itu mengajak sekitar 150–300 peserta, menyusuri kawasan bersejarah Pecinan Samarinda.

Peserta diajak mengenal sejarah kawasan, menikmati kuliner hasil akulturasi budaya Nusantara dan Tionghoa, menyaksikan pertunjukan barongsai, hingga mengunjungi Kelenteng Thien Ie Kong yang menjadi salah satu ikon warisan budaya Kota Tepian.

Rute perjalanan dimulai dari Citra Niaga, kemudian menyusuri Jalan Gajah Mada dan Jalan Yos Sudarso, memasuki gang-gang Pecinan, hingga berakhir di Kelenteng Thien Ie Kong.

Sepanjang perjalanan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejarah kawasan, perkembangan komunitas Tionghoa di Samarinda, serta nilai-nilai toleransi yang telah tumbuh dan berkembang selama puluhan tahun.

Ketua Panitia Harmoni Mahakam, Raynold Tumbo Panggalo, mengatakan kegiatan tersebut merupakan upaya bersama untuk menghidupkan kembali kawasan heritage, sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Samarinda kepada masyarakat.

Menurutnya, Harmoni Mahakam tidak sekadar menjadi kegiatan wisata, tetapi juga menjadi ruang edukasi yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat dalam semangat kebersamaan.

“Melalui kegiatan ini Kami ingin mengajak masyarakat melihat kembali sejarah Pecinan Samarinda sebagai bagian penting dari perjalanan Kota Samarinda, dan kawasan ini memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi yang perlu terus dikenalkan serta dilestarikan, sehingga dapat berkembang menjadi destinasi wisata heritage yang membanggakan,” ujarnya.

Raynold menambahkan, kolaborasi antara KAGAMA Samarinda, PPIT Kaltim, Bankaltimtara, serta dukungan Pemerintah menjadi modal penting dalam mengembangkan wisata berbasis sejarah dan budaya, yang memberikan manfaat bagi masyarakat maupun pelaku UMKM di kawasan Pecinan.

Sementara itu, Direktur Operasional & Manajemen Risiko PT BPD Kaltim Kaltara (Bankaltimtara), yang juga menjabat sebagai Bendahara Pengcab KAGAMA Kota Samarinda, Yenny Israwati, S.E., M.M., menyampaikan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurutnya, tujuan utama Harmoni Mahakam untuk menghadirkan harmoni budaya melalui pengenalan kembali sejarah Pecinan Samarinda berhasil diwujudkan.

“Alhamdulillah acara berjalan lancar, sukses dan apa yang kita inginkan atau tujuan awal ingin terjadi harmoni budaya, alhamdulillah terjadi. Jadi memang hari ini Kita mengajak masyarakat untuk melihat kembali sejarah Pecinan di Samarinda dan telah terjadi akulturasi juga budaya Indonesia Tiongkok dan bagian dari inisiasi KAGAMA Samarinda,” ujarnya.

Yenny menjelaskan, Harmoni Mahakam merupakan hasil kolaborasi KAGAMA Samarinda bersama PPIT Kaltim, disponsori Bankaltimtara serta didukung Pemerintah Kota Samarinda dan Pemerintah Provinsi Kaltim.

Ia menegaskan kegiatan serupa akan terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan budaya kepada generasi muda, sekaligus mendorong lahirnya destinasi wisata sejarah di Samarinda.

“Kita akan terus hidupkan kegiatan-kegiatan seperti ini, dan tujuannya dua. Yang pertama ingin mengenalkan budaya kita kepada generasi berikutnya, dan yang kedua adalah Kita ingin agar Kita memiliki tempat-tempat wisata,” tuturnya.

“Ini bagian dari tempat wisata di Samarinda. Kelenteng bisa didatangi, daripada ke mal terus. Ini salah satu tempat yang bisa kita datangi sebagai bagian dari warisan budaya dan tempat sejarah,” sambungnya.

Yenny juga menjelaskan bahwa, selendang yang dikenakan peserta merupakan simbol persahabatan dari PPIT yang merepresentasikan hubungan baik antara Indonesia dan Tiongkok yang telah terjalin sejak lama.

“Ini selendang PPIT, lambang persahabatan. Dari dulu sebetulnya antara Indonesia dan Tiongkok memiliki persahabatan yang baik. Dan kita ingin meneruskan itu,” ungkapnya.

“Jadi Kita berharap warga Tionghoa dan warga Indonesia bisa menjalin hubungan dan juga menjalin kerja sama yang baik, baik sekarang maupun ke depan,” jelasnya.

“Saya berharap dengan melalui Harmoni Mahakam, kawasan Pecinan tidak hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah Kota Samarinda, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata heritage yang edukatif, memperkuat pelestarian budaya, serta mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM di kawasan tersebut,” tutup Yenny.

Penulis: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *