DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Sempat Diragukan, Sekolah Rakyat Samarinda Kini Buktikan Komitmen Hadirkan Pendidikan Berkualitas.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

Mochammad Arif: Pendidikan Gratis Saja Belum Cukup, Kepercayaan Orang Tua Harus Dibangun.

SAMARINDA, literasikaltim.com – Di balik mulai berkembangnya Program Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 57 Samarinda, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah pada tahap awal pelaksanaannya.

Bukan soal fasilitas atau tenaga pendidik, melainkan membangun kepercayaan masyarakat, khususnya para orang tua, agar bersedia menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang saat itu masih belum dikenal luas.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Samarinda, Mochammad Arif Surochman, saat menghadiri kegiatan Open House Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 57 Samarinda, yang berlangsung di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda, Jalan Untung Suropati, Kecamatan Sungai Kunjang, Sabtu (20/6/2026).

Arif menjelaskan, Kota Samarinda menjadi salah satu daerah yang dipercaya Pemerintah Pusat untuk menjalankan Program Sekolah Rakyat pada tahap awal.

Dalam proses penerimaan peserta didik, Pemerintah Daerah tidak melakukan seleksi maupun penjaringan secara mandiri, melainkan mengacu pada data keluarga penerima manfaat yang telah disiapkan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia.

“Proses penerimaan siswa sudah menggunakan basis data yang ada di Kementerian Sosial. Namun saat itu tantangannya adalah bagaimana meyakinkan orang tua, agar bersedia menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat yang masih baru,” ujarnya.

Menurut Arif, keraguan masyarakat menjadi hal yang wajar mengingat konsep Sekolah Rakyat saat itu masih tergolong baru.

Banyak orang tua belum memahami sistem pendidikan yang diterapkan, termasuk fasilitas yang disediakan pemerintah bagi seluruh peserta didik.

Ia mengungkapkan, tidak semua calon siswa yang telah terdata akhirnya mengikuti program tersebut.

Sebagian keluarga memilih mengundurkan diri, karena masih mempertimbangkan berbagai faktor sebelum memberikan keputusan.

“Ada yang maju mundur, ada yang sudah masuk namanya kemudian mengundurkan diri. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan mereka saat itu,” katanya.

Pada tahap awal implementasi program, tercatat sekitar 90 calon siswa masuk dalam daftar penerimaan.

Namun seiring proses berjalan, jumlah tersebut mengalami penyesuaian karena sebagian peserta memutuskan tidak melanjutkan keikutsertaan mereka.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Daerah bersama pihak sekolah terus melakukan pendekatan secara persuasif kepada keluarga calon peserta didik.

Sosialisasi dilakukan untuk memberikan pemahaman bahwa, Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, dengan menyediakan layanan pendidikan berasrama secara gratis.

Selain proses belajar mengajar, seluruh kebutuhan dasar siswa, mulai dari tempat tinggal, konsumsi, hingga perlengkapan pendidikan, juga difasilitasi oleh Pemerintah sehingga para peserta didik dapat fokus mengembangkan kemampuan mereka.

Arif menilai, tantangan berikutnya setelah penerimaan siswa adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mutu pendidikan yang diberikan.

Menurutnya, keberhasilan Program Sekolah Rakyat tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga kualitas pendidik dalam membimbing serta membentuk karakter peserta didik.

Ia menegaskan bahwa, setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda.

Karena itu, proses pendidikan di Sekolah Rakyat dirancang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, serta rasa percaya diri siswa agar mampu berkembang sesuai kemampuan masing-masing.

“Bagaimana anak-anak memiliki rasa percaya diri dan memahami bahwa mereka memiliki potensi untuk berkembang. Itu yang terus dibangun dalam proses pendidikan di Sekolah Rakyat,” tuturnya.

Lebih lanjut, Arif mengapresiasi dukungan berbagai pihak, yang telah berkolaborasi menyukseskan pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Samarinda.

Sinergi tersebut melibatkan Pemerintah Daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, tenaga pendidik, hingga berbagai mitra yang memberikan pendampingan kepada para siswa.

Menurutnya, kerja sama lintas sektor menjadi fondasi penting agar program ini dapat terus berkembang sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membuka akses pendidikan yang lebih merata bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Ini bukan hanya tugas sekolah atau pemerintah semata, tetapi kerja bersama, untuk memastikan anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang layak, dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

Penulis: Grace
Editor: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *