DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Di Balik Seragam TNI, Kapten Imam Nawawi Menanamkan Harapan untuk Generasi Kaltim.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

Kepala SRK Rabiatul Adawiyah: Program Pembinaan Kapten Imam Nawawi Bangun Mental, Karakter, dan Kepercayaan Diri Siswa.

SAMARINDA, literasikaltim.com – Pendidikan tidak hanya berbicara tentang ruang kelas dan pelajaran akademik. Bagi anak-anak yang tumbuh di tengah berbagai persoalan sosial dan ekonomi, kehadiran sosok inspiratif, serta pembinaan karakter menjadi bekal penting untuk menata masa depan.

Semangat itulah yang terlihat di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 58 Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Senin (15/6/2026).

Upacara bendera yang biasanya berlangsung sebagai rutinitas mingguan, berubah menjadi ruang pembelajaran kehidupan ketika Kapten Inf Imam Nawawi, Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 091/Aji Surya Natakesuma sekaligus Ketua Cabang Pencak silat dan tenaga dalam (PSTD) Persaudaraan rasa tunggal (Persatu) 79 Samarinda, hadir sebagai pembina upacara dan memberikan motivasi kepada para siswa serta tenaga pendidik.

Di hadapan peserta didik SRT 57 dan SRT 58 Samarinda, Imam Nawawi tidak hanya menyampaikan pesan-pesan formal.

Ia memilih berbagi pengalaman tentang perjuangan, kedisiplinan, dan pentingnya memiliki tujuan hidup.

Menurutnya, kondisi masa lalu seseorang tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Setiap anak memiliki kesempatan yang sama, untuk berkembang apabila dibekali keyakinan, kemauan, dan semangat pantang menyerah.

“Apapun masa lalu kalian, kalian tetap memiliki kesempatan untuk menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Imam Nawawi juga membagikan pengalaman saat membina siswa dalam latihan pencak silat.

Ia menceritakan, bagaimana sekelompok anak hanya menjalani persiapan sekitar tiga bulan, sebelum mengikuti sebuah kejuaraan.

Sebelum pertandingan dimulai, ia menanamkan pola pikir kepada anak-anak, agar tidak datang sekadar menjadi peserta.

“Tanamkan dalam pikiran kalian bahwa mengikuti kejuaraan bukan untuk menjadi peserta, tetapi untuk menjadi juara,” pesannya.

Meski memiliki waktu persiapan yang relatif singkat dibandingkan peserta lain, hasil yang diperoleh justru membanggakan.

Dua siswa binaannya, berhasil meraih medali emas dalam ajang tersebut.

“Dan mereka berdua dengan latihan yang efektifnya itu mulai Februari, Maret, April, lalu Mei sudah kita tandingkan dan Alhamdulillah bisa dapat emas dan medali,” katanya.

Imam Nawawi menilai keberhasilan itu menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh lamanya proses latihan, tetapi juga ditopang oleh mental yang kuat, keyakinan diri, dan cara berpikir yang positif.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pencak silat yang dibinanya bukan sekadar olahraga atau sarana meraih prestasi, tetapi menjadi media pembentukan karakter bagi anak-anak yang menghadapi persoalan sosial, seperti keluarga yang tidak utuh (broken home) maupun kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menurutnya, di dalam pencak silat terdapat tiga unsur penting yang saling melengkapi, yakni seni, filosofi kehidupan, dan nilai-nilai religi.

Ketiga unsur tersebut, diyakini mampu membantu anak-anak mengenali jati diri, sekaligus membangun ketangguhan mental.

“Melalui silat, Saya mengajak anak-anak untuk belajar mengenali dirinya sendiri. Karena di dalam silat ada tiga elemen yang tidak bisa dipisahkan, yaitu seni, filosofi kehidupan, dan religi,” ujarnya.

Ia menambahkan, filosofi silat mengajarkan bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan hidup.

Seseorang boleh mengalami jatuh berkali-kali, tetapi yang paling penting adalah kemauan untuk bangkit dan terus berjuang.

“Hidup itu adalah pertarungan dalam segala hal. Kita boleh jatuh berkali-kali, tetapi yang terpenting adalah berapa kali Kita bangkit kembali. Filosofi itu ada dalam kehidupan bela diri,” katanya.

Menurut Imam Nawawi, pembinaan karakter melalui olahraga bela diri dapat menjadi sarana efektif, untuk mengalihkan anak-anak dari berbagai pengaruh negatif sekaligus membangun optimisme, dan kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Kepala SRT 58 Kalimantan Timur, Rabiatul Adawiyah, menyambut baik kunjungan dan pembinaan yang diberikan kepada para siswa.

Ia menilai kegiatan tersebut sejalan dengan misi Sekolah Rakyat yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga penguatan karakter peserta didik.

“Sekolah Rakyat hadir untuk memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak, agar dapat berkembang secara optimal, dan Kami sangat mengapresiasi kehadiran Bapak Imam Nawawi, yang memberikan motivasi serta pembinaan kepada siswa kami,” ujarnya.

Rabiatul menjelaskan bahwa dukungan tersebut tidak hanya berupa kunjungan, tetapi juga pembinaan rutin melalui latihan pencak silat, yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan.

Menurutnya, materi yang diberikan mengajarkan disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, serta penghormatan kepada orang tua dan guru.

Ia mengatakan, sebagian besar siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang membutuhkan perhatian, dan dukungan lebih dalam proses pendidikan.

Oleh sebab itu, sekolah terus berupaya menghadirkan program-program yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar.

“Anak-anak ini memiliki potensi yang luar biasa, dan tugas Kami adalah membuka ruang, agar mereka percaya pada kemampuan dirinya sendiri dan berani bermimpi untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Lebih lanjut, Rabiatul menilai kolaborasi antara dunia pendidikan dengan berbagai elemen masyarakat, menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan inklusif.

Kehadiran tokoh yang peduli terhadap pembinaan generasi muda, dinilai mampu memberikan teladan nyata tentang arti kerja keras dan ketekunan.

Program Sekolah Rakyat sendiri dirancang untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, dengan mengedepankan pembelajaran akademik, keterampilan hidup, dan pembentukan karakter sebagai bekal menghadapi kehidupan bermasyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, pembinaan pencak silat dan pemberian motivasi tidak hanya melahirkan prestasi olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemulihan sosial dan pembangunan sumber daya manusia.

Pesan yang ingin ditanamkan kepada setiap anak sederhana namun bermakna, bahwa latar belakang kehidupan bukanlah penentu masa depan, melainkan semangat untuk terus belajar, bangkit, dan berjuang meraih cita-cita.

“Kami berharap kegiatan pembinaan seperti ini dapat terus berlanjut. Anak-anak membutuhkan motivasi dan pendampingan, agar tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mandiri, dan siap menghadapi tantangan di masa depan,” pungkas Rabiatul Adawiyah.

Penulis: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *