![]()
Muhammad Aswad Sebut Tidak Memiliki Etika Kepemimpinan.
SAMARINDA, literasikaltim.com – Aksi unjuk rasa yang berlangsung di Kantor Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) pada hari Selasa 21 April 2026 kemarin, tidak hanya menyisakan ketegangan antara massa dan aparat, tetapi juga memunculkan sorotan tajam terhadap sikap kepemimpinan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud.
Sejak pagi, ratusan massa berkumpul di depan Kantor Gubernur Kaltim dengan membawa sejumlah tuntutan, termasuk desakan penggunaan hak angket.
Aparat keamanan dari Polda Kaltim dan Polresta Samarinda tampak berjaga ketat dengan memasang kawat berduri, serta melakukan pengamanan berlapis untuk mengantisipasi potensi kericuhan.
Situasi sempat memanas, ketika massa merasa tidak mendapat respons langsung dari pemerintah provinsi.
Mereka menunggu kehadiran Gubernur Kaltim untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, namun hingga beberapa waktu tidak kunjung ditemui.
Di tengah kondisi tersebut, Gubernur Rudy Mas’ud akhirnya keluar dari Kantor Gubernur.
Namun, ia tidak menemui massa dan justru berjalan menuju rumah jabatan yang masih berada dalam satu kompleks, dengan pengawalan ketat aparat keamanan.
Peristiwa itu memicu kritik dari sejumlah kalangan, dan salah satunya disampaikan warga Kaltim, Muhammad Aswad, yang menilai momen tersebut mencerminkan persoalan etika kepemimpinan.
“Peristiwa 21 April kemarin bukan hanya soal kericuhan atau tuntutan hak angket, tetapi menunjukkan bagaimana etika kepemimpinan sedang diuji di ruang publik,” ujar Aswad dalam keterangannya ke media ini, Rabu (22/4/2026).
Ia menilai, di tengah situasi yang memanas, kehadiran pemimpin untuk berdialog langsung dengan masyarakat merupakan hal penting, untuk meredakan ketegangan.
“Ketika massa sudah menunggu dan berharap ditemui, seharusnya ada upaya komunikasi langsung. Itu bagian dari tanggung jawab moral seorang pemimpin,” katanya.
Di sisi lain, Aswad juga menyoroti kinerja aparat keamanan yang dinilainya tetap profesional dan humanis dalam mengawal aksi tersebut.
Menurutnya, aparat mampu menahan diri meskipun situasi cukup tegang.
“Aparat dari Polda Kaltim dan Polresta Samarinda menunjukkan profesionalisme, dan tidak ada tindakan represif berlebihan, bahkan dalam kondisi yang memanas,” ucapnya.
Namun demikian, ia menyayangkan tidak terlihat adanya gestur apresiasi dari gubernur terhadap aparat yang telah berjaga sejak pagi.
“Tidak terlihat adanya ucapan terima kasih atau bentuk penghargaan kepada aparat yang sudah menjaga keamanan. Padahal keselamatan dalam situasi itu juga bergantung pada mereka,” tuturnya.
Ia menilai, hal tersebut menjadi catatan penting dalam menilai sikap kepemimpinan di ruang publik, terutama dalam situasi krisis.
“Ini bukan sekadar soal protokol, tetapi soal adab dan bagaimana seorang pemimpin menghargai orang lain, baik aparat maupun masyarakat,” tegasnya.
Aswad juga mengingatkan bahwa publik tidak hanya menilai kinerja pembangunan, tetapi juga sikap dan perilaku pemimpin dalam memperlakukan sesama.
“Rakyat tidak hanya melihat apa yang dibangun, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin bersikap. Dari situ kepercayaan publik dibentuk,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Gubernur Kaltim terkait kritik yang berkembang pasca aksi tersebut.
Penulis: Andi Isnar













