![]()
Anak usaha SPJM ini mengelola lebih dari 1.260 awak kapal dan 58 tenaga pandu, siap mendukung kelancaran logistik dan rantai pasok di berbagai pelabuhan Indonesia.
SAMARINDA, literasikaltim.com – PT Intan Sejahtera Utama (PT ISMA), anak perusahaan PT Pelindo Jasa Maritim (SPJM), terus menunjukkan peran strategisnya sebagai penyedia layanan crewing management dan pemanduan kapal di berbagai wilayah pelabuhan Indonesia.
Sejak berdiri pada 2018, PT ISMA telah berkembang menjadi salah satu pengelola tenaga kerja maritim yang terpercaya, dengan cakupan layanan yang kini tersebar dari Belawan hingga Merauke.
Direktur Utama PT ISMA, Muhammad Irfan, menegaskan bahwa keberadaan ISMA menjadi bagian penting dalam mendukung rantai logistik nasional.
“Kami hadir untuk memastikan ketersediaan awak kapal dan tenaga pandu yang profesional, sesuai standar internasional, serta siap mendukung kelancaran operasional kepelabuhanan di seluruh nusantara,” ujarnya dalam kegiatan media gathering di Kantor Pelindo Samarinda, Rabu (24/9/2025).
Sebagai perusahaan yang berfokus pada manning agency, PT ISMA memiliki legalitas lengkap dengan SIUPPAK Nomor 232.35 Tahun 2022, pengesahan Kemenkumham, serta perizinan yang mengacu pada Undang-Undang Pelayaran No. 17 Tahun 2008 dan regulasi terkait pengawakan kapal niaga.
ISMA juga telah mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015 (QMS), ISO 45001:2018 (SHMS), dan ISO 37001:2018 (SMAP) sebagai bukti penerapan standar mutu, keselamatan kerja, dan pencegahan praktik korupsi.
“Legalitas dan sertifikasi bukan sekadar formalitas, melainkan komitmen kami dalam menjaga kualitas layanan sekaligus memberikan perlindungan hukum dan keselamatan bagi awak kapal,” tambah Irfan.
Hingga kini, PT ISMA mengelola lebih dari 1.260 awak kapal dan 58 tenaga pandu yang ditempatkan di berbagai wilayah.
Distribusi tenaga kerja tersebut mencakup pelabuhan utama seperti Tanjung Priok, Belawan, Balikpapan, Samarinda, Makassar, hingga Jayapura.
Di Kalimantan Timur sendiri, ISMA menempatkan awak kapal di Samarinda, Balikpapan, Bontang, hingga Sangatta, serta tenaga pandu di Samarinda dan Tanjung Redeb.
Armada yang dikelola pun cukup beragam, mulai dari 110 unit kapal tunda, 110 motor pandu, 4 motor kepil, hingga 1 kapal sampah.
Dalam menjalankan operasionalnya, PT ISMA merujuk pada standar dan konvensi internasional, di antaranya:
- SOLAS 1974 (Keselamatan Pelayaran di Kapal),
- MARPOL 1970/1978 (Perlindungan Lingkungan Laut),
- STCW 1978 Manila Amendment 2010 (Standar Sertifikasi dan Pelatihan Pelaut),
- MLC 2006 (Perlindungan Tenaga Kerja Pelaut).
Menurut Irfan, penerapan konvensi internasional ini menjadi kunci agar ISMA mampu bersaing di tingkat global.
“Awak kapal dan tenaga pandu kami wajib memiliki sertifikasi sesuai standar IMO. Dengan begitu, pelayanan Kami tidak hanya memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga berpotensi masuk ke pasar internasional,” jelasnya.
Selain memastikan ketersediaan SDM, ISMA juga rutin mengadakan program peningkatan kompetensi seperti safety briefing, fire drill, abandon ship drill, hingga legal skills academy.
Program ini, bertujuan memperkuat kesadaran keselamatan dan kesiapan awak kapal menghadapi kondisi darurat.
ISMA juga menjalin kerja sama dengan berbagai asosiasi dan organisasi maritim, baik nasional maupun internasional, guna memperkuat jejaring bisnis dan memperluas cakupan layanan.
“Kami percaya, kolaborasi adalah kunci untuk terus tumbuh. Sebab itu, Kami membuka ruang kerja sama dengan mitra strategis, baik dalam negeri maupun luar negeri,” tutur Irfan.
Menatap 2025 dan seterusnya, PT ISMA berkomitmen memperluas jangkauan layanan dengan menambah jumlah awak kapal, memperkuat kehadiran di pelabuhan strategis, serta mendukung program Indonesia Maritime Gateway.
“Kami ingin ISMA tidak hanya menjadi manning agency, tapi juga pusat pengembangan SDM maritim yang berdaya saing global,” pungkas Muhammad Irfan.
REDAKSI.













