DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Dari Simbol Menjadi Sistem: Gagasan PWI-NU Global untuk Memperkuat Jaringan Nahdliyin Dunia.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

TULUNG AGUNG, literasikaltim.com – Gagasan mengenai jaringan global Nahdlatul Ulama, merupakan langkah strategis dalam memandang masa depan organisasi.

Namun, perluasan jaringan saja tidak cukup apabila tidak disertai tata kelola kelembagaan, yang mampu mengakomodasi keragaman karakteristik warga Nahdliyin di berbagai negara.

Dalam konteks tersebut, pembentukan Pengurus Wilayah Istimewa Nahdlatul Ulama Global (PWI-NU Global) layak dipertimbangkan sebagai ikhtiar menerjemahkan semangat universal, yang sejak lama tercermin dalam lambang Nahdlatul Ulama.

Para muassis NU menempatkan bola dunia (globe) sebagai pusat lambang organisasi, diikat oleh tali persatuan yang melingkar serta dihiasi sembilan bintang.

Simbol-simbol tersebut merepresentasikan keluasan pandangan, ukhuwah yang melampaui batas negara, keterikatan dalam satu jam’iyah, dan cahaya nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menerangi kehidupan.

Seiring berkembangnya NU sebagai organisasi dengan jaringan di berbagai belahan dunia, filosofi tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan tata kelola NU Global.

Yang dibutuhkan bukan sekadar penambahan cabang istimewa, melainkan pembangunan sistem koordinasi yang mampu menyatukan seluruh diaspora Nahdliyin, dalam jejaring organisasi yang kokoh.

Urgensi gagasan ini semakin nyata, apabila mencermati perkembangan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) di berbagai negara.

Perhatian khusus, perlu diberikan kepada PCI NU yang berada di negara-negara dengan konsentrasi besar pekerja migran Indonesia, seperti Hong Kong, Taiwan, dan Korea Selatan.

Di kawasan tersebut, mayoritas warga Nahdliyin bukan diplomat maupun akademisi, melainkan diaspora pekerja migran yang sehari-hari berhadapan dengan persoalan hukum, ketenagakerjaan, sosial, budaya, hingga perlindungan hak-hak dasar di negara penempatan.

Karena itu, ukuran “keistimewaan” sebuah PCI NU semestinya tidak hanya didasarkan pada lokasinya di luar negeri, tetapi juga mempertimbangkan besarnya jumlah warga Nahdliyin yang dilayani serta kompleksitas persoalan yang mereka hadapi.

Pembinaan PCI NU tidak dapat diseragamkan, karena setiap negara memiliki sistem hukum, regulasi organisasi, dan karakter masyarakat yang berbeda.

Pengalaman PCI NU Hong Kong, dapat menjadi salah satu bahan evaluasi bersama.

Setelah hampir dua belas tahun berdiri, masih terdapat kebutuhan akan penguatan identitas kelembagaan dan legalitas organisasi, sesuai ketentuan hukum negara penempatan.

Kondisi tersebut, tentu berbeda dengan tantangan yang dihadapi PCI NU di negara lain.

Perbedaan karakter inilah yang menuntut pola pembinaan yang lebih adaptif, profesional, dan berkelanjutan dari PBNU.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PWI-NU Global diusulkan sebagai pusat koordinasi dengan satu kantor pusat, yang bertugas melakukan pembinaan organisasi, pengembangan kelembagaan, asistensi hukum, penguatan tata kelola, advokasi, serta pengembangan kapasitas seluruh PCI NU di dunia.

Dalam pelaksanaan tugasnya, PWI-NU Global membawahi sembilan Pengurus Rayon Istimewa sebagai koordinator kawasan, yaitu:

  1. Pengurus Rayon Istimewa Asia Timur.
  2. Pengurus Rayon Istimewa ASEAN.
  3. Pengurus Rayon Istimewa Timur Tengah.
  4. Pengurus Rayon Istimewa Eropa.
  5. Pengurus Rayon Istimewa Amerika Utara.
  6. Pengurus Rayon Istimewa Amerika Latin.
  7. Pengurus Rayon Istimewa Australia–Selandia Baru.
  8. Pengurus Rayon Istimewa Afrika.
  9. Pengurus Rayon Istimewa Asia Selatan dan Asia Tengah.

Pembagian kawasan tersebut, bukan dimaksudkan untuk menambah jenjang birokrasi organisasi, melainkan membangun sistem koordinasi yang lebih efektif sesuai karakteristik hukum, budaya, dan dinamika diaspora di masing-masing kawasan.

Angka sembilan juga memiliki makna simbolik. Ia dapat dipahami sebagai representasi inspiratif dari sembilan bintang, yang menghiasi lambang Nahdlatul Ulama.

Sebagaimana sembilan bintang mengitari bola dunia yang diikat tali persatuan, demikian pula sembilan Pengurus Rayon Istimewa, diharapkan menjadi simpul koordinasi yang menjaga keterhubungan Nahdliyin di seluruh dunia dalam satu jam’iyah yang kokoh.

Keunggulan lain dari model ini adalah, bahwa sumber daya manusianya sesungguhnya telah tersedia.

Kepengurusan PWI-NU Global maupun Pengurus Rayon Istimewa dapat direkrut dari para alumni PCI NU, yang telah kembali dan menetap di Indonesia.

Mereka merupakan kader yang memiliki pengalaman empiris membangun organisasi di luar negeri, memahami budaya negara penempatan, mengenal regulasi setempat, serta tetap memiliki jejaring internasional yang aktif.

Modal pengalaman tersebut, merupakan aset kelembagaan yang sangat berharga dan tidak semestinya berhenti, ketika masa pengabdian mereka di luar negeri berakhir.

Melalui mekanisme tersebut, setiap PCI NU yang baru berdiri tidak perlu memulai dari titik nol.

Pengalaman, praktik terbaik, dan pembelajaran dari berbagai negara dapat ditransformasikan menjadi pengetahuan kelembagaan, yang diwariskan secara sistematis kepada generasi berikutnya.

Dengan demikian, pembinaan PCI NU tidak lagi bersifat insidental, tetapi berkembang menjadi sistem yang berkesinambungan.

Apabila Muktamar NU berkehendak menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai kekuatan masyarakat sipil berskala global, maka yang diperlukan bukan hanya perluasan jaringan, melainkan desain kelembagaan yang mampu mengonsolidasikan pengalaman kader, memperkuat legalitas organisasi, memberikan perlindungan kepada warga Nahdliyin di luar negeri, serta memastikan setiap PCI NU memperoleh pendampingan yang sesuai dengan karakteristik negara penempatannya.

Pada akhirnya, kekuatan NU Global tidak diukur dari banyaknya cabang istimewa yang berdiri, melainkan dari kemampuannya membangun sistem koordinasi yang profesional, adaptif, berkelanjutan, dan berpihak pada kebutuhan nyata warga Nahdliyin di seluruh dunia.

Dengan demikian, filosofi bola dunia yang diikat tali persatuan dan diterangi sembilan bintang tidak berhenti sebagai lambang organisasi, tetapi menjelma menjadi arah pembangunan kelembagaan Nahdlatul Ulama dalam menjawab tantangan abad ke-21.

Penulis:
A.Dardiri Syafi’i
Ex Pendiri PCI NU Hong Kong.

Editor: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *