DPRD Samarinda Diskominfo Kutim

Aksi Hijau BEM SI Wilayah Kalimantan Bangkitkan Kesadaran Kolektif Selamatkan Sungai Karang Mumus.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

Muhammad Iqbal: Aksi Kecil yang Dilakukan Bersama Mampu Bangkitkan Kesadaran Lingkungan.

SAMARINDA, literasikaltim.com – Persoalan sampah yang masih mencemari Sungai Karang Mumus, menjadi perhatian berbagai elemen masyarakat.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi tersebut, Forum Nasional Sosial Masyarakat BEM SI Wilayah Kalimantan (VIII) berkolaborasi dengan komunitas Gerakan Memungut Sehelai Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, serta Polairud Jakarta telah menggelar kegiatan “Aksi Hijau” di kawasan bantaran Sungai Karang Mumus.

Kegiatan itu tidak hanya berfokus pada aksi membersihkan sampah, tetapi juga menjadi upaya membangun kesadaran masyarakat bahwa, menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana, yang dilakukan secara bersama dan berkelanjutan.

Menteri Sosial Masyarakat dan Keagamaan Dema UINSI Samarinda, Muhammad Iqbal Syafi’i Ma’arif, mengatakan aksi memungut sehelai sampah merupakan simbol dari gerakan perubahan yang lahir dari kepedulian kolektif.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak akan terselesaikan apabila hanya dibebankan kepada Pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Tindakan kecil yang dilakukan bersama adalah bentuk pengabdian publik, yang menandai kebangkitan kesadaran kolektif terhadap lingkungan,” kata Iqbal.

Ia menjelaskan, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang mampu menggerakkan masyarakat melalui edukasi dan keteladanan.

Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam menjaga lingkungan harus diwujudkan melalui aksi nyata, bukan hanya sebatas kampanye atau seruan di media sosial.

Iqbal menilai, kegiatan “Aksi Hijau” menjadi bukti bahwa kolaborasi antara mahasiswa, komunitas, Pemerintah, dan aparat penegak hukum mampu menghadirkan solusi terhadap persoalan sampah, yang selama ini menjadi ancaman bagi keberlangsungan ekosistem Sungai Karang Mumus.

Menurutnya, sebagian besar sampah yang mencemari sungai berasal dari aktivitas rumah tangga dengan dominasi sampah plastik.

Kondisi tersebut, sejalan dengan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda yang menunjukkan masih tingginya akumulasi sampah plastik, maupun sampah organik di bantaran Sungai Karang Mumus.

Akumulasi sampah tersebut, lanjut Iqbal, tidak hanya menurunkan kualitas air sungai, tetapi juga meningkatkan risiko penyumbatan aliran air, ketika musim penghujan yang berpotensi menyebabkan banjir di sejumlah kawasan permukiman.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda, dan Polairud Jakarta dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kehadiran kedua institusi itu menjadi bukti bahwa penanganan persoalan sampah membutuhkan sinergi, antara edukasi kepada masyarakat, penyediaan sarana pendukung, hingga penegakan aturan bagi pelaku pencemaran lingkungan.

“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri, dan dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak agar gerakan menjaga lingkungan menjadi budaya yang terus tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.

Iqbal menambahkan, berbagai pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan bahwa kombinasi edukasi publik, dukungan infrastruktur pengelolaan sampah, dan penegakan hukum secara konsisten mampu menekan volume sampah di aliran sungai, dalam kurun waktu satu hingga dua tahun apabila dilakukan secara berkelanjutan.

Dari sisi sosial dan keagamaan, ia menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari amanah yang harus dijalankan bersama.

Oleh sebab itu, mahasiswa diharapkan terus mengambil peran sebagai penggerak perubahan melalui edukasi kepada masyarakat, advokasi terhadap kebijakan pengelolaan sampah, serta mengawal implementasi kebijakan agar berjalan secara transparan dan tepat sasaran.

Lebih lanjut, Iqbal berharap “Aksi Hijau” tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, Pemerintah, dunia usaha, hingga lingkungan kampus.

Menurutnya, program edukasi berbasis komunitas serta integrasi nilai kepedulian lingkungan dalam aktivitas kemahasiswaan, perlu terus diperkuat agar budaya menjaga kebersihan dapat tumbuh sejak dini.

“Keberhasilan gerakan ini bukan diukur dari banyaknya kantong sampah yang terkumpul, tetapi dari lahirnya kebiasaan baru masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, berkurangnya sampah di aliran sungai, serta hadirnya kebijakan daerah yang semakin proaktif dalam menjaga lingkungan,” jelasnya.

“Kami selaku mahasiswa telah membuka pintu perubahan, sekarang menjadi tugas Kita bersama memastikan gerakan ini terus berlanjut, demi mewujudkan ruang publik yang bersih dan lingkungan yang lestari,” pungkasnya.

Penulis: Arif Mentri Soskem Dema UINSI Samarinda
Editor: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *