![]()
SAMARINDA, literasikaltim.com — Keluhan warga terkait dampak pembangunan parkiran Mall SCP Samarinda, diduga sempat tidak mendapat perhatian serius dari pihak manajemen maupun kontraktor pelaksana proyek, hingga persoalan tersebut mulai disorot media.
Hal itu terungkap setelah warga penghuni rumah dinas Subdolog Wilayah I Samarinda mengeluhkan kerusakan rumah, berupa atap bocor dan kondisi bangunan yang semakin memburuk akibat aktivitas proyek pembangunan parkiran, di samping tempat tinggal mereka.
Rumah dinas yang ditempati warga berinisial WL berada di Jalan P. Hidayatullah, tepat diapit area pembangunan parkiran Mall SCP dan rumah dinas karyawan Mall SCP, yang disebut tidak berpenghuni.
Menurut WL, kebocoran rumah semakin parah sejak proyek pembangunan berlangsung.
Selain itu, keberadaan pohon beringin yang tumbuh menempel di dinding rumah dinas karyawan Mall SCP juga, disebut memperburuk kondisi bangunan karena akar dan daun kering menyebabkan saluran air tersumbat.
“Sekarang atap rumah jadi bocor. Kondisinya makin parah sejak ada pembangunan parkiran itu,” ungkap WL sebelumnya.
Warga mengaku telah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada pihak terkait.
Namun, respons yang diterima dinilai tidak maksimal dan cenderung melempar tanggung jawab.
Dalam pesan WhatsApp yang diterima warga, pihak manajemen Mall SCP bahkan mengarahkan, agar keluhan disampaikan langsung kepada pihak kontraktor.
“Selanjutnya jika ada komplain bisa menghubungi kontraktor kami atas nama Pak Ferial ya,” demikian isi pesan yang diterima warga.
Media ini kemudian mencoba mengonfirmasi persoalan tersebut, kepada beberapa pihak yang disebut berkaitan dengan proyek, yakni Narto, Ferial, dan Togle berdasarkan nama pada akun WhatsApp.
Namun, dari sejumlah nomor yang dihubungi, hanya Togle yang memberikan respons.
Dalam keterangannya, Togle mengaku dirinya bersama perwakilan SCP baru melakukan pertemuan dengan warga, untuk membahas penyelesaian masalah tersebut.
“Iya saya juga sudah dikirimi Pak WL lusa lalu. Beberapa hari ini dan semalam saya juga sudah ketemu Pak SB,” tulis Togle kepada media ini, melalui pesan WhatsApp ke media ini, Kamis (21/5/2026).
Ia menyebut, pihak kontraktor siap melakukan perbaikan terhadap kerusakan, yang ditimbulkan akibat pekerjaan proyek.
Sementara pihak SCP disebut, siap menebang pohon yang berada di area rumah dinas karyawan SCP.
“SCP siap menebang pohon yang ada di rumah SCP yang menyebabkan kotor di atap rumah Pak SB, dan kontraktor juga siap perbaiki setiap kerusakan yang disebabkan pekerjaan,” ujarnya.
Namun, saat ditanya alasan mengapa keluhan warga sebelumnya terkesan lambat ditangani, dan baru mendapat respons setelah melibatkan wartawan, Togle mengakui memang sempat terjadi keterlambatan penanganan.
“Kemarin memang sempat saya terlambat penanganan, karena saya cuti dan Pak SB serta Pak WL juga saya beritahu, mereka mengerti,” jelasnya.
Pernyataan tersebut, memunculkan dugaan bahwa penanganan terhadap keluhan warga, baru dilakukan secara serius setelah persoalan ini mendapat perhatian media.
Pasalnya, sebelum adanya konfirmasi dari wartawan, warga mengaku hanya diarahkan untuk menghubungi pihak kontraktor tanpa ada tindakan nyata di lapangan.
Di sisi lain, saat media ini mencoba menanyakan lebih lanjut terkait izin lingkungan atau AMDAL proyek pembangunan parkiran tersebut, Togle justru meminta agar pertanyaan itu dialihkan kepada pihak lain.
“Coba bapak hubungi Pak Ferial selaku Site Manager untuk AMDAL dan lain-lain ya,” jawabnya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Mall SCP Samarinda maupun pihak yang disebut sebagai Site Manager proyek, belum memberikan keterangan resmi terkait izin proyek, seperti izin AMDAL, maupun tudingan lambannya penanganan keluhan warga terdampak pembangunan.
Penulis: Andi Isnar













