Diskominfo Kutim

Gotong Royong Demi Pendidikan, Orang Tua Murid dan Pemerhati Masyarakat Desa Separi Benahi Akses Jalan Tanpa Pemdes.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

KUKAR, literasikaltim.com — Para wali murid dan warga Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), bergotong royong membuka kembali akses jalan alternatif menuju Desa Embalut, yang selama hampir lima tahun tidak dapat dilalui akibat kerusakan parah.

Pembukaan jalan tersebut, dilakukan sebagai solusi sementara agar anak-anak dari Desa Separi, yang bersekolah di SMP 4 Embalut dan SMKN 1 Embalut dapat tetap berangkat sekolah dengan lebih aman dan cepat.

Koordinator Lapangan Pemerhati Masyarakat Desa Separi, Rachmad Irjali, menjelaskan bahwa jalan yang dibuka kembali merupakan jalan milik PT Kitadin Site Embalut, yang sebelumnya menjadi jalur penghubung antar Desa antara Desa Separi dan Desa Embalut.

Menurutnya, kondisi jalan tersebut rusak berat akibat tingginya aktivitas kendaraan pengangkut pasir, baik mobil pick up maupun truk roda enam dari wilayah Embalut.

“Selama ini jalan tersebut sudah hampir lima tahun tidak dilewati, karena rusak cukup parah,” ucapnya melalui pesan WhatsApp ke media ini, Kamis (14/5/2026).

“Sementara akses jalan yang biasa digunakan warga saat ini juga sedang ditutup sementara, karena ada proyek pengecoran jalan oleh Pemerintah Desa Separi,” ujarnya.

Ia mengatakan, sejak 7 April 2026, pihak Pemerhati Masyarakat Desa Separi bersama orang tua murid, telah melakukan gotong royong membersihkan semak belukar di sepanjang jalur alternatif tersebut, dengan menggunakan mesin pemotong rumput.

Langkah itu dilakukan, agar jalan kembali dapat difungsikan untuk kepentingan masyarakat, khususnya bagi para pelajar.

Selain untuk akses pendidikan, jalan alternatif tersebut juga dinilai penting untuk mendukung pelayanan kesehatan dan kebutuhan darurat masyarakat.

Rachmad menyebutkan, akses tersebut sangat membantu masyarakat yang hendak berobat, terutama ibu hamil yang akan menuju tempat praktik bidan di Desa Embalut.

“Kalau ada ibu hamil yang ingin melahirkan atau masyarakat yang butuh berobat, akses ini sangat membantu karena lebih dekat,” katanya.

Tidak hanya itu, jalan alternatif tersebut juga dianggap vital sebagai jalur lintasan mobil pemadam kebakaran dari Desa Separi menuju Desa Embalut maupun sebaliknya.

Selama ini, kendaraan damkar kesulitan melintas di jalur bawah conveyor PT Kitadin, karena kondisi jalan yang sempit dan rawan tersangkut.

Dalam upaya membuka kembali jalan tersebut, pihak Pemerhati Masyarakat Desa Separi telah meminta izin kepada manajemen PT Kitadin Site Embalut.

Dan surat permohonan itu, akhirnya mendapat persetujuan dari perusahaan.

Meski demikian, perusahaan disebut belum dapat membantu penyediaan alat berat berupa excavator, karena keterbatasan operasional.

Namun perusahaan memberikan izin kepada warga, untuk mengambil material batu laterit di area perusahaan guna menimbun jalan yang rusak.

“Untuk armada angkut material, Kami dari orang tua murid sudah menyiapkan secara swadaya,” jelasnya.

Pihak Pemerhati Masyarakat Separi juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Embalut, termasuk Kepala Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), guna mencari bantuan alat berat dari pihak perusahaan lain, yakni PT MCT.

Namun hingga kini upaya tersebut, belum terealisasi karena alat berat masih digunakan di lokasi lain, dan belum tersedia excavator yang berada dekat dengan titik jalan rusak.

Rachmad menegaskan, kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat murni atas dasar kepedulian dan kebutuhan bersama, terutama demi keselamatan anak-anak sekolah.

Menurutnya, jalur alternatif tersebut jauh lebih aman dibandingkan jalur memutar melalui jalan provinsi yang memiliki jarak lebih panjang dan risiko kecelakaan lebih tinggi.

“Kalau lewat jalan provinsi harus memutar cukup jauh, bisa sampai 7 sampai 8 kilometer melalui arah Kerta Buana, Pondok NW Desa Sumber Rejo hingga ke Embalut. Sedangkan kalau lewat jalan alternatif ini hanya sekitar 1,5 sampai 2 kilometer saja,” ungkapnya.

Ia berharap jalan alternatif tersebut, dapat segera dilewati, minimal untuk kendaraan roda dua, agar aktivitas masyarakat dan anak-anak sekolah kembali lancar.

“Kami berharap jalan ini segera bisa digunakan, minimal untuk sepeda motor agar anak-anak Kami bisa berangkat sekolah dengan lebih aman, dan tidak harus memutar jauh melewati jalan provinsi yang risikonya lebih besar,” pungkas Rachmad Irjali.

Penulis: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0822 2777 3286

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *