Diskominfo Kutim

Desa Bhuana Jaya Genjot Ekonomi Warga, dari Sawah Produktif hingga Wisata Anggrek.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

KUKAR, literasikaltim.com — Pemerintah Desa Bhuana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, terus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui penguatan sektor pertanian, pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), hingga pengelolaan potensi wisata Desa.

Upaya ini, mulai menunjukkan hasil signifikan dengan peningkatan produktivitas, dan pendapatan warga dalam setahun terakhir.

Desa eks-transmigrasi yang juga dikenal sebagai Separi III ini memiliki kekuatan utama di sektor pertanian dengan luas lahan sawah mencapai sekitar 650 hektare.

Selain itu, Desa ini juga mengoptimalkan pemanfaatan lahan bekas tambang batu bara seluas 17 hektare menjadi area pertanian produktif.

Kepala Desa Bhuana Jaya, Frend Effendy, mengungkapkan bahwa sektor pertanian menjadi penopang utama ekonomi warga.

Ia menyebut, setelah sempat terdampak serangan hama pada periode tanam sebelumnya, kondisi pertanian kini berangsur pulih dan bahkan mengalami peningkatan.

“Kalau tahun kemarin banyak yang terserang hama, tahun ini alhamdulillah panen melimpah, dan petani Kita nanam itu sukses,” ujarnya, saat di wawancarai media ini di ruang kerjanya, Selasa (7/4/2026) siang.

Ia menjelaskan, dalam satu tahun petani di desa tersebut melakukan dua kali masa tanam.

Foto: Kegiatan panen raya di Desa Bhuana Jaya, Selasa (11/3/2025) lalu. Ist.

Pada periode akhir tahun lalu hingga awal 2026, hasil panen padi menunjukkan tren positif, ditopang kondisi cuaca yang lebih baik dan pengendalian hama yang optimal.

Selain padi, warga juga mengembangkan tanaman hortikultura seperti tomat, gambas, kacang, jagung, dan timun.

Komoditas tertentu, seperti gambas dinilai memiliki harga yang relatif stabil di pasaran, sementara komoditas lain cenderung fluktuatif.

Meski demikian, pada awal tahun ini harga sejumlah komoditas, seperti tomat dan cabai mengalami kenaikan yang menguntungkan petani.

Di luar sektor pertanian, pemerintah desa juga menggerakkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor ekonomi lokal.

Saat ini, BUMDes Bhuana Jaya menjalankan beberapa unit usaha, di antaranya TDM Mart yang bekerja sama dengan distributor, untuk menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, BUMDes juga mengembangkan program penggemukan sapi berbasis kemitraan dengan warga, serta membangun pabrik kompos untuk mendukung sektor pertanian berkelanjutan.

Skema bagi hasil diterapkan dalam usaha peternakan ini, dengan komposisi pembagian keuntungan antara BUMDes dan masyarakat.

“BUMDes merangkul masyarakat, pengelolaan sapi dilakukan warga, nanti penjualan oleh BUMDes dengan sistem bagi hasil,” jelasnya .

Penguatan ekonomi Desa juga dilakukan melalui pengembangan UMKM, dan beragam produk lokal mulai tumbuh, seperti keripik jamur, jamu, dan produk kesehatan lainnya.

Salah satu produk unggulan, madu kelulut, kripik sale pisang, keripik jamur, bahkan telah dikenal luas di wilayah Tenggarong Seberang.

Menariknya, pelaku UMKM keripik jamur tersebut mengelola seluruh proses produksi secara mandiri, mulai dari budidaya jamur hingga pengolahan dan pengemasan.

Produk ini telah dikemas secara modern, dengan menggunakan aluminium foil dan memiliki variasi rasa, seperti original dan balado.

Pemerintah Desa turut mendorong pemasaran produk UMKM melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan (PT. KMIA, PT. PAMA, serta PT. JMB) dan pemanfaatan platform digital.

Upaya digitalisasi pemasaran menjadi fokus ke depan, seiring perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin bergeser ke platform daring.

Dukungan dari Pemerintah Daerah juga dirasakan, melalui berbagai pelatihan yang diberikan oleh dinas terkait, seperti Dinas Koperasi, Kominfo, hingga Dispora.

Pelatihan ini dinilai mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam pengembangan usaha dan pemasaran digital.

Frend Effendy menambahkan, secara keseluruhan terjadi peningkatan ekonomi desa yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya, tahun ini lebih maju. Kenaikannya sekitar 45 persen,” katanya .

Ke depan, Pemerintah Desa menargetkan pengembangan sektor pariwisata sebagai sumber ekonomi baru.

Desa Bhuana Jaya memiliki potensi wisata alam, termasuk air terjun yang kini mulai dibenahi akses jalannya.

Selain itu, desa ini juga tengah mengembangkan kawasan wisata anggrek.

Dari sekitar 100 jenis anggrek yang direncanakan, saat ini telah tersedia sekitar 30 jenis yang diproyeksikan menjadi daya tarik wisata unggulan.

Pengembangan Desa wisata ini diharapkan mampu mendorong perputaran ekonomi masyarakat, melalui peningkatan kunjungan wisatawan.

“Ketika ada wisatawan yang datang, daya beli meningkat dan terjadi perputaran ekonomi,” pungkasnya.

Penulis: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0878-8345-4028

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *