![]()
Penerapan aplikasi Pilot Pro, sensor digital, hingga SOP terbaru diharapkan mampu meminimalisasi risiko kecelakaan kapal di Sungai Mahakam.
SAMARINDA, literasikaltim.com – PT Pelindo Jasa Maritim (SPJM), subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero), terus memperkuat aspek keselamatan (safety improvement) dalam pelayanan pemanduan kapal, khususnya di perairan wajib pandu Samarinda.
Upaya ini dilakukan menyusul tingginya intensitas lalu lintas kapal di Sungai Mahakam yang memiliki risiko kecelakaan cukup besar, terutama saat melintas di bawah Jembatan Mahakam dan Jembatan Martadipura.
SVP K3L dan Sistem Manajemen Mutu SPJM, Moh. Subiyan, menjelaskan bahwa area pelabuhan dan perairan di sekitar jembatan merupakan kawasan kerja dengan risiko tinggi.
Pandu kapal harus menghadapi tantangan cuaca ekstrem, arus deras, hingga kondisi teknis saat menaiki tangga kapal yang bergerak.
“Keselamatan menjadi prioritas utama. Setiap inovasi yang kami jalankan bertujuan meminimalisasi risiko sekaligus meningkatkan keandalan layanan pemanduan,” ungkapnya di sela media gathering di Samarinda, Rabu (24/9/2025).
Sejumlah langkah perbaikan keselamatan telah dilakukan SPJM secara bertahap. Pada tahap dasar, perusahaan telah memasang SBNP (Port Entry Light) di Jembatan Mahakam sejak 2024, menyediakan alat pengukur ketinggian muatan (laser monitoring), serta water level indicator di Jembatan Mahakam dan Martadipura.
Selain itu, SPJM juga melakukan review dan sosialisasi SOP terkait pemanduan pengolongan jembatan, termasuk uji coba aplikasi Pilot Pro untuk perwira pandu.
Pada tahap intermediate, SPJM sedang menyiapkan pemasangan water current sensor, water level sensor, dan laser range finder di Jembatan Mahakam.
Sedangkan tahap advance akan dilengkapi dengan sistem AI sensor ketinggian berbasis CCTV analytics.
“Kami juga telah menambah satu unit kapal tunda escort sejak Februari 2025 untuk memperkuat manuver kapal di area jembatan,” jelas Subiyan.
Upaya peningkatan keselamatan turut diperkuat dengan penetapan area labuh resmi di sekitar Jembatan Mahakam dan Jembatan Martadipura, sesuai pengumuman KSOP Samarinda.

Lokasi ini menjadi titik tunggu sementara bagi kapal yang akan melintas, sehingga proses pemanduan lebih tertib dan aman.
Tak hanya investasi peralatan, SPJM juga gencar mengedukasi pekerja lewat program Safety Induction yang telah melebihi target capaian, pelaksanaan drill & exercise untuk kesiapsiagaan darurat, hingga forum-forum keselamatan.
“Kami mendorong budaya Safety FAST (Fit, Active, Standard, Teamwork), agar seluruh insan SPJM terbiasa dengan standar keselamatan internasional,” kata Subiyan.
SPJM menargetkan hingga akhir 2025, seluruh perangkat keselamatan di area wajib pandu Samarinda dapat beroperasi penuh.
Dengan sistem digital dan sensor terintegrasi, diharapkan pelayanan pemanduan di bawah jembatan semakin presisi, efisien, dan minim risiko.
“Keselamatan tidak bisa ditawar, dan dengan dukungan teknologi, regulasi, serta sinergi semua pihak, Kami optimistis pemanduan kapal di Samarinda dapat berlangsung lebih aman, mendukung kelancaran logistik, sekaligus menjaga kepercayaan para pengguna jasa,” pungkas Moh. Subiyan.
REDAKSI.













