![]()
SAMARINDA, literasikaltim.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Samarinda, mendesak Tim Walikota Akselerasi Pembangunan (TWAP) untuk segera mempercepat penyelesaian proyek Terowongan Kota Samarinda.
Desakan ini, disampaikan menyusul lambatnya progres pembangunan yang hingga kini belum tuntas, padahal infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjadi solusi kemacetan di kawasan perkotaan.
Wakil Ketua II PC PMII Kota Samarinda, Zumardin, menegaskan bahwa terowongan bukan sekadar proyek fisik, melainkan kebutuhan mendesak warga Samarinda untuk mendapatkan transportasi yang aman, nyaman, dan lancar.
“Terowongan Samarinda bukan hanya proyek fisik, tetapi kebutuhan yang bermanfaat untuk masyarakat Kota Samarinda, dan terlambat penyelesaian yang berlarut sama artinya menunda hak publik atas transportasi yang lancar dan aman,” ujarnya, melalui pesan WhatsApp ke media ini, Minggu (14/9/2025) malam.
PMII menilai TWAP sebagai tim percepatan pembangunan harus menunjukkan keseriusan penuh.
Menurut Zumardin, TWAP dituntut bekerja maksimal, fokus, dan totalitas agar proyek yang dimulai sejak 2022 tersebut dapat rampung sesuai target.
“TWAP tidak boleh setengah hati. Semakin cepat terowongan selesai, semakin cepat pula manfaatnya dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Lebih jauh, PMII Kota Samarinda berkomitmen untuk terus mengawal jalannya proyek hingga selesai.
Organisasi mahasiswa itu menyebut percepatan penyelesaian terowongan akan menjadi bukti nyata, keseriusan Pemerintah Kota Samarinda dalam memenuhi kewajiban pelayanan publik.
“Pemerintah harus menjadikan percepatan pembangunan terowongan ini sebagai prioritas, dan publik menunggu realisasi, bukan sekadar janji,” tegas Zumardin.
Di ketahui bahwa, Proyek Terowongan Kota Samarinda yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap mulai dikerjakan awal 2022 dengan nilai kontrak sekitar Rp 395 miliar oleh PT Pembangunan Perumahan (PP).
Target awal rampung akhir 2024, namun mundur ke 2025 karena hambatan pembebasan lahan dan ganti rugi.
Progres pembangunan sempat dilaporkan 40 persen pada awal 2024, meningkat menjadi 55 persen di pertengahan tahun, dan mencapai 75 persen pada Desember 2024 saat penggalian dari dua sisi hampir tersambung.
Meski begitu, penyelesaian total termasuk jalan pendekat baru ditargetkan April 2025.
Sebagai salah satu proyek strategis Kota Tepian, terowongan ini diharapkan menjadi solusi utama, untuk mengurangi kemacetan di jalur padat Samarinda Ilir.
PMII menekankan, lambatnya penyelesaian sama saja menunda hak masyarakat atas fasilitas publik.
“Percepatan penyelesaian terowongan harus diwujudkan, dan warga berhak merasakan manfaat infrastruktur yang dijanjikan pemerintah,” pungkas Zumardin.
Penulis: Andi Isnar













