Diskominfo Kutim

Pertumbuhan Ekonomi Desa Bukit Pariaman Bertumpu pada Sektor Pertanian, Infrastruktur dan Diversifikasi Terus Digenjot.

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

KUKAR, literasikaltim.com – Desa Bukit Pariaman di Kecamatan Tenggarong Seberang terus menunjukkan geliat pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada sektor pertanian sebagai pilar utama.

Pemerintah Desa bersama masyarakat berupaya memperkuat ketahanan ekonomi melalui peningkatan produktivitas, pembangunan infrastruktur pertanian, hingga pengembangan usaha masyarakat.

Desa yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara ini dikenal sebagai kawasan dengan komposisi penduduk yang heterogen, terdiri dari suku Banjar, Kutai, Bugis, Bali, hingga Jawa.

Pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup pesat, sebagian dipicu oleh perpindahan tenaga kerja dari sektor pertambangan, turut memengaruhi dinamika ekonomi desa.

Kepala Desa Bukit Pariaman, Sugeng Riyadi, melalui Sekretaris Desa, Samijan, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi desa dalam beberapa tahun terakhir masih didominasi sektor pertanian, khususnya padi sawah.

“Kalau perkembangan ekonomi di desa ini rata-rata masih di sektor pertanian, terutama padi sawah, dan hampir sama dengan desa-desa sekitar, dengan kondisi yang sangat dipengaruhi musim,” ujarnya saat ditemui, Selasa (7/4/2026).

Ia mengungkapkan, ketergantungan pada sistem tadah hujan menjadi tantangan utama yang berdampak langsung terhadap hasil panen.

Saat musim hujan tidak optimal, produktivitas pertanian ikut menurun.

Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya aktivitas perusahaan, di sekitar Desa yang menyebabkan sebagian warga kehilangan pekerjaan.

Optimalisasi Lahan dan Infrastruktur Pertanian.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah Desa memfokuskan program pada peningkatan sarana dan prasarana pertanian.

Di antaranya pembangunan jalan usaha tani dan sistem drainase guna mendukung kelancaran distribusi hasil panen.

“Program Desa sebagian besar masih difokuskan ke pertanian, seperti peningkatan jalan usaha tani dan drainase,” tutur Samijan.

Berdasarkan data lapangan, luas lahan pertanian di Desa Bukit Pariaman mencapai lebih dari 900 hektare dengan jumlah kelompok tani sekitar 24 kelompok, serta satu gabungan kelompok tani (gapoktan).

Selain itu, terdapat tambahan kelompok tani hutan (KTH) yang mulai dikembangkan.

Foto: Pertanian Di Desa Bukit Pariaman, ist

Pemerintah Desa juga, menargetkan peningkatan intensitas tanam dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun.

Namun, target ini masih terkendala infrastruktur pengairan yang belum memadai.

Diversifikasi dan UMKM Mulai Tumbuh.

Selain padi sawah, masyarakat juga mulai mengembangkan sektor lain sebagai upaya diversifikasi ekonomi.

Di Dusun Barambai, misalnya, petani mulai menanam kelapa dalam sebagai sumber pendapatan tambahan.

Di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), aktivitas ekonomi masyarakat masih bersifat mandiri dan belum terorganisir secara maksimal.

Produk yang dihasilkan antara lain keripik tempe, keripik pisang, kerupuk, hingga gula aren.

“Produk UMKM ada, tapi masih dikelola sendiri oleh masyarakat, dan belum ada home industri yang terstruktur, meski sudah mendapat pelatihan dari Desa dan dinas terkait,” jelasnya.

Beberapa pelaku usaha bahkan telah mendapatkan pendampingan, termasuk sertifikasi halal dan perizinan usaha, serta bantuan desain kemasan dari pihak perusahaan.

Peran BUMDes dan Kemitraan Perusahaan.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Bukit Pariaman, saat ini masih berfokus pada kemitraan dengan perusahaan.

Salah satu kegiatan yang dijalankan, adalah penyediaan bahan seperti bambu sesuai permintaan pihak perusahaan.

“BUMDes masih bergerak sebagai mitra kerja perusahaan, belum sampai menampung dan memasarkan produk masyarakat secara mandiri,” ungkap Samijan.

Pemerintah Desa pun mendorong pengembangan unit usaha baru, agar BUMDes dapat berperan lebih besar dalam menggerakkan ekonomi lokal.

Di sisi lain, pengembangan ekonomi berbasis pemuda masih menghadapi kendala pola pikir.

Mayoritas pemuda Desa cenderung memilih bekerja sebagai karyawan, dibandingkan berwirausaha.

Program pelatihan yang pernah diberikan, seperti budidaya maggot dan peternakan bebek, belum berkelanjutan karena ditinggalkan saat peserta kembali bekerja di perusahaan.

“Mindset pemuda masih ingin bekerja. Jadi ketika sudah diterima kerja, usaha yang dirintis ditinggalkan,” katanya.

Meski demikian, organisasi kepemudaan seperti karang taruna tetap ada, meski aktivitasnya belum optimal dalam mendorong inovasi ekonomi.

Ke depan, Pemerintah Desa berencana memperkuat kolaborasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) dan dinas terkait, untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan memperluas peluang usaha.

Program pelatihan keterampilan, seperti barber shop serta penguatan infrastruktur pertanian, menjadi bagian dari strategi jangka menengah hingga 2027.

Namun, keterbatasan anggaran masih menjadi tantangan dalam pelaksanaannya.

“Strategi Kami ke depan adalah bekerja sama dengan dinas dan OPD untuk pengembangan ekonomi, baik di sektor pertanian maupun peningkatan keterampilan masyarakat,” pungkas Samijan.

Penulis: Andi Isnar

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0878-8345-4028

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *