![]()
H. Andi Saharuddin Apresiasi Sang Pembebas, Sebut Penting bagi Literasi Sejarah Diaspora.
SAMARINDA, literasikaltim.com — Akademisi dan tokoh masyarakat, Andi Ade Lepu, memperkenalkan buku berjudul Sang Pembebas dalam rangkaian Dialog Publik 50 Tahun Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) bertema “Merawat Warisan dan Menata Masa Depan”, yang dilaksanakan Himpunan Masyarakat Parepare (HMP) Kaltim di Ballroom Hotel Aston Samarinda.
Buku tersebut mengulas keterkaitan sejarah masyarakat perantau dari Sulawesi Selatan, khususnya warga Wajo, dengan wilayah Kalimantan Timur.
Usai kegiatan dialog tersebut, Andi Ade Lepu menjelaskan bahwa buku itu ia tulis dalam kurun waktu sekitar 2020 hingga 2022.
Ia menuturkan karya tersebut, memuat berbagai fakta historis tentang hubungan masyarakat diaspora dengan daerah rantau.
“Buku ini Saya susun untuk menggali nilai warisan leluhur, sekaligus memperkaya pengetahuan generasi muda tentang akar sejarah mereka,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, isi buku menyoroti keterkaitan historis komunitas perantau Bugis dengan kerajaan di wilayah Kalimantan Timur serta kisah tokoh-tokoh yang memiliki jejak perjalanan lintas daerah.
Ia mengatakan narasi disusun dengan pendekatan semi-roman, agar lebih mudah dipahami pembaca muda tanpa menghilangkan substansi sejarah.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama penulisan buku tersebut, adalah membangun kesadaran bahwa keberadaan masyarakat perantau di Kaltim bukanlah kebetulan.
“Ini bagian dari perjalanan sejarah panjang yang memberi kontribusi nyata terhadap perkembangan daerah,” katanya.
ia juga menyebutkan stok buku saat ini hampir habis, karena telah didistribusikan luas sejak pertama kali diterbitkan.
Ia menambahkan rencana cetakan kedua tengah disiapkan, terutama untuk kalangan internal komunitas, agar literatur sejarah tersebut dapat diakses lebih luas.
Ketua Himpunan Masyarakat Parepare Kaltim, H. Andi Saharuddin, menilai karya tersebut memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas budaya perantau asal Parepare.
Ia menyampaikan bahwa, literasi sejarah seperti buku itu, penting untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap daerah tempat bermukim, sekaligus menjaga ikatan emosional dengan tanah asal.
Menurutnya, buku yang mengangkat jejak historis diaspora dapat menjadi referensi edukatif bagi generasi muda, agar memahami kontribusi leluhur mereka dalam perjalanan sosial dan budaya di Kalimantan Timur.
Ia menekankan dokumentasi sejarah lokal merupakan bagian penting, dari upaya merawat memori kolektif masyarakat.
“Dengan adanya karya tulis seperti ini, paguyuban memiliki rujukan yang bisa memperkuat program pendidikan budaya serta mempererat solidaritas anter anggota,” tutupnya.
Hadirnya buku tersebut, mendapat respons positif dari peserta dialog.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai dokumentasi sejarah diaspora merupakan langkah penting, untuk menjaga kesinambungan nilai budaya sekaligus memperkaya khazanah literatur lokal di Kalimantan Timur.
Penulis: Andi Isnar













