Diskominfo Kutim

DLH Kutim Dorong Enam Sekolah Menuju Adiwiyata Nasional, Perkuat Program Kampung Iklim di Lingkungan Masyarakat

DISCLAIMER: Penayangan ulang sebagian atau keseluruhan berita untuk konten akun media sosial komersil harus seizin Redaksi

Loading

SANGATTA, literasikaltim.com – Upaya peningkatan kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus berkembang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim mengusulkan enam sekolah untuk mengikuti penilaian Adiwiyata Nasional, sebuah program yang menjadi indikator sekolah berwawasan lingkungan.

Program ini menilai bagaimana sekolah mengintegrasikan edukasi hijau, pengelolaan sampah, pengembangan taman sekolah, hingga pembiasaan perilaku ramah lingkungan bagi seluruh siswa.

Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kutim, Nurrahmi Asmalia, mengatakan bahwa pihaknya tengah menunggu hasil penilaian dari Pemerintah Pusat.

“Enam sekolah sudah kami usulkan, dan proses penilaiannya kini berada di tingkat nasional. Kami optimis karena sekolah-sekolah tersebut memiliki kesiapan yang baik,” ucapnya.

Selain fokus pada Adiwiyata, DLH Kabupaten Kutim juga memperkuat pelaksanaan Program Kampung Iklim.

Program ini menuntut keterlibatan aktif masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dan aktivitasnya meliputi pengelolaan sampah, penghijauan pekarangan, penghematan energi, hingga pengurangan risiko bencana.

Nurrahmi menjelaskan bahwa program ini memiliki cakupan luas, karena tidak hanya melibatkan warga, tetapi juga kelompok perempuan, pemuda, RT/RW, serta perangkat Desa.

“Program Kampung Iklim ini berbasis komunitas, jadi keberhasilan sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peningkatan ketahanan lingkungan di tingkat lokal menjadi fokus penting, terutama di wilayah rawan banjir dan kawasan pesisir yang lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Namun, DLH mengakui adanya sejumlah tantangan, terutama terkait konsistensi sekolah dan masyarakat.

Banyak sekolah yang aktif mengikuti Adiwiyata di tahap awal, namun semangatnya menurun ketika terjadi pergantian kepala sekolah atau perubahan struktur pengelola.

Hal serupa juga terjadi di tingkat masyarakat dalam program Kampung Iklim. Karena itu, DLH kini memperkuat pendampingan, monitoring, serta mendorong sekolah untuk membentuk tim kerja lingkungan yang berkelanjutan.

“Keberlanjutan adalah tantangan terbesar. Ada yang aktif saat lomba, tetapi melemah di tahun berikutnya. Ini yang kami evaluasi dan perbaiki,” ujarnya.

DLH menegaskan bahwa Program Kampung Iklim bukan hanya agenda seremonial, tetapi strategi nyata untuk menekan dampak perubahan iklim di tingkat lokal, dan dengan edukasi yang tepat, diharapkan masyarakat mampu menjadi pelaku utama mitigasi.

“Kami bukan hanya mengejar penghargaan Adiwiyata, tetapi membangun budaya peduli lingkungan. Program Kampung Iklim adalah bukti bahwa masyarakat bisa menjadi penggerak utama,” tutupnya. (Adv-Diskominfo Kutim/AI)

Permintaan ralat, koreksi, revisi maupun hak jawab, silakan WA 0878-8345-4028

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *